Pengusaha Sepatu Nilai Pelemahan Rupiah Jadi Momentum Perkuat Ekspor

Pelaku industri alas kaki dalam negeri menilai tren pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat saat ini sebagai momentum untuk mendorong industri berorientasi ekspor.
Annisa Sulistyo Rini | 07 Oktober 2018 19:31 WIB
Petugas jasa penukaran valuta asing memeriksa lembaran mata uang rupiah dan dollar AS di Jakarta, Senin (2/7/2018). - ANTARA/Puspa Perwitasari

Bisnis.com, JAKARTA--Pelaku industri alas kaki dalam negeri menilai tren pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat saat ini sebagai momentum untuk mendorong industri berorientasi ekspor.

Firman Bakri, Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo), mengatakan saat ini nilai impor lebih besar daripada ekspor sehingga menyebabkan defisit necara perdagangan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai defisit perdagangan pada Agustus 2018 sebesar US$1,02 miliar.

"Sebenarnya impor tidak dilarang, tetapi ekspor harus didorong lebih tinggi. Industri berorientasi ekspor, termasuk alas kaki, harus didorong supaya neraca perdagangan positif," ujarnya kepada Bisnis, Jumat (6/10/2018).

Beberapa langkah yang bisa dilakukan pemerintah untuk menguatkan industri berbasis ekspor antara lain negoisasi perjanjian dagang dan perbaikan iklim investasi untuk menarik lebih banyak investor. Dengan investasi, lapangan pekerjaan dan kapasitas industri akan semakin besar.

Salah satu perjanjian dagang yang ditunggu industri alas kaki adalah Indonesia-EU Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) karena permintaan produk alas kaki Indonesia cukup tinggi. Apabila pemerintah bisa menurunkan bea masuk produk alas kaki ke Eropa, ekspor bakal naik 20%--30%.

Dia menilai dengan kondisi perang dagang antara Amerika Serikat dan China menjadi peluang untuk menarik investasi dari Negara Panda tersebut. Apalagi, saat ini industri alas kaki di China tengah mengalami kejenuhan.

Adapun, karena industri alas kaki berorientasi ekspor, maka tidak terpengaruh oleh pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat walaupun 40% bahan bakunya masih diimpor. Kendati demikian, bagi industri skala kecil dan menengah yang berorientasi domestik, penguatan dolar AS bakal lebih terasa dampaknya.

"Masalahnya untuk menaikkan harga tidak mungkin karena daya beli belum kuat dan harus bersaing dengan produk impor murah," jelasnya.

Dia menyebutkan dari keseluruhan anggota asosiasi, sebanyak 20% merupakan industri skala kecil menengah. Jumlah anggota dan produksi masih didominasi oleh perusahaan besar berorientasi ekspor.

Saat ini, Indonesia berada di urutan keenam sebagai negara eksportir terbesar di dunia setelah China, Vietnam, Italia, Jerman, dan Belgia. Sepanjang tahun lalu, ekspor alas kaki mencapai 4,52 miliar euro atau naik 7,96% secara tahunan dari 4,19 miliar euro.

China masih menjadi negara pengekspor alas kaki terbesar dengan nilai 44 miliar euro, sedangkan Vietnam mencatatkan nilai ekspor sebesar 15 miliar euro.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah terus berupaya memacu pertumbuhan ekonomi nasional melalui peningkatan investasi dan ekspor. Untuk mendorong investasi, kata Airlangga, pemerintah menyiapkan insentif dan kebijakan pendukung, khususnya untuk industri padat karya yang berorientasi ekspor seperti tekstil, garmen, dan sepatu.

“Kami telah mengusulkan insentif untuk memudahkan relokasi pabrik ke daerah dengan tingkat upah minimum regional yang rendah. Agar pertumbuhan ekonomi dapat bergerak merata," ucapnya.

Pada kuartal II/2018, sektor alas kaki menjadi salah satu penopang pertumbuhan industri manufaktur dengan pertumbuhan sebesar 11,38%. Selain alas kaki, industri karet, barang dari karet dan plastik, industri makanan dan minuman, serta industri tekstil dan pakaian jug mencatatkan kinerja yang mampu melampaui pertumbuhan ekonomi nasional.

Tag : Industri Alas Kaki
Editor : Maftuh Ihsan

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top