Importir Gandum Siap-Siap Berburu Pemasok dari AS dan Kanada, Ada Apa?

Gangguan saat masa tanam komoditas gandum di Australia dan Ukraina, membuat para importir gandum Indonesia mulai mengalihkan pengadaan dalam negerinya ke Kanada dan Amerika Serikat (AS).
Yustinus Andri DP | 27 September 2018 16:05 WIB
Ilustrasi - Artisanfoodandlaw

Bisnis.com, JAKARTA — Gangguan saat masa tanam komoditas gandum di Australia dan Ukraina, membuat para importir gandum Indonesia mulai mengalihkan pengadaan dalam negerinya ke Kanada dan Amerika Serikat (AS).

Ketua Umum Asosiasi Produsen Tepung Terigu (Aptindo) Franciscus Welirang mengatakan, perubahan tersebut dilakukan pada semester II/2018. Perubahan daerah asal tersebut dilakukan demi mengantisipasi kenaikan harga yang signifikan di Australia. Sementara itu, peralihan dari Ukraina disebabkan oleh banyaknya hasil produksi gandum yang terpapar penyakit jamur.

“Ada perubahan. Kecenderungan kami ke Kanada dan AS. Tetapi tidak menutup kemungkinan impor dari Brasil atau Argentina. Tergantung dari hitung-hitungan harga dan ongkos logistik, negara mana yang lebih murah,” katanya kepada Bisnis.com, Rabu (26/8/2018).

Menurutnya, dengan adanya perubahan negara asal gandum dan potensi kenaikan harga komoditas tersebut, dia meyakini permintaan gandum untuk sektor tepung terigu Tanah Air akan tetap mengalami kenaikan. Pada tahun ini, dia memperkirakan konsumsi gandum untuk tepung terigu mencapai 8,5 juta ton atau naik dari tahun lalu yang mencapai 8 juta ton.

Adapun, berdasarkan data Aptindo, daerah asal impor gandum pada 2017 lalu dipuncaki leh Australia dengan 5,1 juta ton. Peringkat kedua terdapat Ukraina dengan 1,9 juta ton. Di bawah kedua negara tersebut terdapa Kanada dan Rusia yang maisng-masig 1,6 juta ton dan 1,2 juta ton.

Seperti diketahui, Australia menurunkan perkiraan panen gandumnya hingga 13% karena kekeringan yang melanda seluruh pantai Timur membuat produksi dari pengekspor gandum terbesar keempat dunia itu turun ke level terendah selama 10 tahun.

Dalam laporan resmi di laman, Australian Bureau of Agricultural and Resource Economics and Sciences (ABARES) produksi gandum Australia pada musim 2018 – 2019 diperkirakan hanya akan mencapai 19,1 juta ton.

Sebelumnya pada Juni ABARES mematok produksi gandum Australia bisa mencapai 21,9 juta ton. Penurunan produksi di Negeri Kanguru ini dikhawatirkan akan mengurangi ekspor gandum dari negara tersebut. Pasalnya, Austalia biasanya mengekspor dua per tiga dari keseluruhan produksi gandumnya.

Gangguan alam yang terjadi di Australia tersebut membuat harga gandum dunia mengalami kenaikan. Harga gandum di Chicago Board of Trade (CBOT) yang menjadi harga patokan global pada Rabu (26/9) mencapai US$524,75 per bushel. Harga tersebut naik dari level terendahnya pada Januari 2018 yang mencapai US$416,50 per bushel.

Adapun, impor gandum Australia selama ini memiliki porsi 50% dari total impor Indonesia. Franciscus mengatakan, dengan adanya gangguan tersebut, porsi impor dari negara tersebut diperkirakan akan turun menjadi sekitar 35%.

“Namun, kami juga mewaspadai kemungkinan, bahwa peralihan kami ke negara lain ini diikuti oleh negara importir gandum lainnya. Jadi tidak menutup kemungkinan di negara lain harganya naik, sehingga harga produk yang dihasilkan dari gandum di indonesia ikut naik,” ujarnya.

Dia memperkirakan, dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan gangguan pasokan gandum dari negara asal, membuat harga tepung terigu akan naik 10%. “Tetapi kenaikan ini belum mengganggu di tingkat konsumen, sebab permintaan tetap besar.”

Terpisah, Dewan Pembina Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) Sudirman mengaku tidak terlalu terpengaruh dengan kondisi harga dan pasokan gandum global. Pasalnya, permintaan gandum untuk sektor tersebut hanya berkisar 1 juta metrik ton per tahun, sementara untuk impor tepung terigu hanya 100.000 ton per tahun.

“Tidak terlalu menggangu kenaikan harganya, karena sifatnya hanya untuk campuran bagi pakan hewan ternak perairan,” katanya.

Tag : gandum
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top