Pengembangan Bandara Komodo Butuh Rp3 Triliun

Pengembangan Bandara Komodo, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT) agar menjadikan bandara bertaraf internasional ditaksir membutuhkan dana hingga Rp3 triliun.
Ilham Budhiman | 25 September 2018 16:32 WIB
Penumpang turun dari pesawat NAM Air Boeing 737 500 rute Denpasar - Labuan Bajo. - Bisnis.com/Natalia Indah Kartikaningrum

Bisnis.com, JAKARTA - Pengembangan Bandara Komodo, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi bandara bertaraf internasional ditaksir membutuhkan dana hingga Rp3 triliun.

Dana itu terdiri dari kebutuhan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp1,17 triliun, dan biaya operasional (operational expenditure/opex) senilai Rp1,83 triliun.

Pengembangan bandara tersebut merupakan bagian dari salah satu pilot project yang dilakukan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) melalui skema pembiayaan Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).

Pelaksana Tugas (Plt) Deputi bidang Perencanaan Penanaman Modal BKPM, Wisnu Wijaya Soedibjo mengatakan masa konsesi dalam proyek tersebut akan berlangsung selama 25 tahun.

Saat ini, proyek tersebut tengah masuk dalam tahap market sounding sebagai bentuk penjajakan kepada calon investor sebelum masuk pada tahap lelang.

Adapun cakupan proyek yang dikerjasamakan dengan swasta meliputi pembangunan, pengoperasian serta pemeliharaan fasilitas bandara. Proyek ini juga akan mendapatkan penjaminan pemerintah (government guarantee) melalui PT Penjaminan Infrastruktur Indonesia.

"Untuk mekanisme pengembalian investasi adalah menggunakan user charge atau tarif selama masa konsesi. Artinya, investor akan mendapatkan pembayaran tarif dari pengguna layanan jasa fasilitas bandar udara selama masa konsesi," katanya dalam Market Sounding Proyek KPBU Bandar Udara Komodo, Selasa (25/9/2018).

Dia mengatakan tujuan market sounding dari proyek tersebut adalah untuk mendapatkan masukan atau feedback terhadap bentuk kerja sama yang ditawarkan.

"Di samping untuk menyampaikan proyek ini ke pasar. Feedback tidak hanya dari sisi teknis, tetapi juga sisi keuangan sosial dan lingkungan. Bahkan, alokasi risiko yang ditawarkan," katanya.

Pada market sounding, turut hadir sekitar 150 peserta yang meliputi investor yang bergerak di bidang pengelolaan bandar udara, kontraktor, perbankan dan lembaga keuangan, konsultan, serta asosiasi terkait dari dalam dan luar negeri.

Adapun beberapa perusahaan dan BUMN yang hadir antara lain GVK Services lndonesia, GMR Airport, PT Angkasa Pura I, PT Angkasa Pura II, PT Dirgantara Petroindo Raya, PT Cardig Aero Services Group, dan Muhibbah Engineering BHD.

Selain itu, PT Wijaya Karya Bangun Gedung, PT Sojitz Indonesia, PT Pembangunan Perumahan, Astra Infrastructure, Mitsubishi Corporation, Hyundai Engineering Co., Ltd, China Construction Eighth Engineering Division Corp. Ltd, Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ, BNP Paribas, Mitsui, Marubeni Corporation, ITOCHU Corporation, Indika Logistic, dan beberapa kedutaan besar negara sahabat.

Tag : bandara
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top