Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Permintaan Baja Lapis Lesu, tetapi Sunrise Steel Tetap Lanjutkan Ekspansi

PT Sunrise Steel tetap melanjutkan ekspansi perusahaan kendati permintaan baja lapis dalam negeri masih lesu.
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 27 Agustus 2018  |  20:58 WIB
Pabrik baja di Jiaxing, Provinsi Zhejiang, China - Reuters/William Hong
Pabrik baja di Jiaxing, Provinsi Zhejiang, China - Reuters/William Hong

Bisnis.com, JAKARTA--PT Sunrise Steel tetap melanjutkan ekspansi perusahaan kendati permintaan baja lapis dalam negeri masih lesu.

Henry Setiawan, Presiden Direktur Sunrise Steel, mengatakan pada November tahun ini, perseroan akan mengoperasikan lini produksi kedua yang akan menambah kapasitas produksi sebesar 140.000 ton. Dengan demikian, kapasitas produksi perseroan menjadi 400.000 ton per tahun.

"Proyek ini kan sudah dimulai sejak 2 tahun yang lalu, enggak mungkin dihentikan dan kalau enggak dioperasikan kami justru menderita," katanya Senin (27/8/2018).

Selain itu, Sunrise juga tetap mengimpor mesin karena sudah menandatangani kontrak walaupun menggerus laba karena pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Mesin tersebut merupakan pengolah besi canai panas menjadi besi canai dingin.

Pembelian mesin tersebut bertujuan supaya operasional perusahaan lebih efisien karena bisa mengolah sendiri baja canai panas dan kemudian dilapisi menjadi baja lapis.

Agar investasi yang ditelah ditanamkan perseroan bisa optimal, Henry yang juga menjabat sebagai Ketua Klaster Baja Lapis Aluminium Seng Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (the Indonesia Iron and Steel Industry Association/IISIA), meminta pemerintah agar menekan impor baja paduan yang dinilai sangat menganggu industri dalam negeri.

Beberapa masukan yang diberikan asosiasi kepada pemerintah antara lain pemberlakuan standar nasional Indonesia (SNI) wajib dan moratorium surat perizinan impor (SPI) baja paduan untuk konstruksi.

Saat ini impor baja paduan, terutama dari China, sangat mencederai industri baja dalam negeri karena masuk melalui pelarian HS number. Baja paduan sejatinya diperlukan untuk otomotif dan alat berat, tetapi pada praktiknya banyak lari ke sektor konstruksi.

Adapun, berdasarkan data Indonesia Zinc Aluminum Steel Industries (IZASI), asosiasi yang membawahi industri baja lapis, permintaan baja lapis di Indonesia mencapai 1,3 juta ton per tahun. Jumlah ini seharusnya mampu menyerap seluruh produksi yang dihasilkan oleh anggota asosiasi. Total produksi anggota asosiasi baja lapis ini baru 660.000 ton.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sunrise steel
Editor : Maftuh Ihsan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top