Efek Libur Panjang Belum Mampu Tutupi Defisit Neraca Perdagangan

Ekonom menilai efek libur panjang menyebabkan surplus neraca perdagangan sebesar US$1,74 miliar pada Juni 2018 belum mampu menutupi defisit pada kuartal II/2018 yang mencapai US$1,02 miliar.
Ipak Ayu H Nurcaya | 16 Juli 2018 16:57 WIB
Terminal peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. - Reuters/Darren Whiteside

Bisnis.com, JAKARTA — Ekonom menilai efek libur panjang menyebabkan surplus neraca perdagangan sebesar US$1,74 miliar pada Juni 2018 belum mampu menutupi defisit pada kuartal II/2018 yang mencapai US$1,02 miliar.

Wakil Direktur Institute of Development for Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto mengatakan penyebab masih defisitnya neraca perdagangan pada kuartal II/2018 adalah karena terjadi impor cukup tinggi pada April dan Mei 2018 untuk menghadapi Ramadan serta Idulfitri.

Impor tinggi terjadi untuk barang modal, barang konsumsi, dan bahan baku. Termasuk di dalamnya adalah impor untuk mempercepat infrastruktur menghadapi mudik.

Sementara itu, pada Juni  2018 sebenarnya terjadi penurunan impor yang cukup tajam untuk barang modal seperti mesin, pesawat mekanik, hingga besi baja. Hal ini membuat neraca perdagangan surplus. 

"Pada Juni 2018 juga terdapat libur panjang, sehingga perusahaan mengurangi aktivitas kerja. Penurunan tajam impor mesin menggambarkan aktivitas terkait produksi memang mengalami penurunan selama libur Lebaran," paparnya, Senin (16/7/2018).

Dengan demikian, Eko menilai perusahaan mengantisipasi libur tersebut dengan mengurangi impor.

Realisasi neraca perdagangan disampaikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada siang tadi. Defisit pada kuartal II/2018 berbanding terbalik dengan posisi neraca perdagangan pada kuartal II/2017 yang mencatatkan surplus. 

Adapun neraca perdagangan Indonesia pada kuartal I/2018 mencatatkan surplus US$314 juta.

BPS menyebutkan impor pada periode Januari-Juni 2018 sebesar US$89,04 miliar atau meningkat 23,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yang sekitar US$72,33 miliar. 

Sementara itu, ekspor Januari-Juni 2018 menyentuh US$88,02 miliar atau tumbuh 10,03% dibandingkan Januari-Juni 2017 yang nilainya US$80 miliar.

Tag : Neraca Perdagangan
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top