Realistiskah Target Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung?

Pembangunan proyek infrastruktur juga harus berkeselamatan, tanpa harus dikejar tayang dengan tenggat waktu penyelesaian. Sementara masa 3 tahun ke depan sebenarnya relatif singkat untuk pembangunan infrastruktur sepanjang 142 km apalagi sekaligus pengoperasiannya.
Dewi Aminatuz Zuhriyah | 03 Juli 2018 20:25 WIB
Kereta cepat China - Reuters/Jason Lee

Bisnis.com, JAKARTA— Target peroperasian kereta cepat Jakarta-Bandung pada 2021 dinilai sudah lebih realistis untuk mengejar tahap pembangunan infrastrukturnya.

Ketua Forum Transportasi Perkeretaapian MTI Aditya Dwi Laksana menilai jika pemerintah hanya menargetkan pembangunan infrastruktur kereta cepat pada 2021, tanpa pengoperasian maka target tersebut masih cukup realistis.

“Tadinya KA kecepatan tinggi diproyeksikan selesai pada 2019, kemudian mundur pada 2020 dan sekarang 2021, itu memang lebih realistis ketimbang target-target penyelesaian sebelumnya,” kata Aditya kepada Bisnis.com, Selasa (3/7).

Dalam hal ini, Aditya menuturkan jika tantangan utama pembangunan infrastruktur seperti pengadaan lahan yang sudah mencapai 73% dan pencairan pinjaman dari China Development Bank untuk tahap dua dan tiga sudah betul-betul direalisasikan pada sisa akhir tahun ini, maka tak menutup kemungkinan penyelesaian proses konstruksi akan sesuai dengan waktu yang ditetapkan.

Kendati, menurutnya, operasional KA cepat tidak hanya sekedar membangun lintasan dan stasiun serta persinyalan. Melainkan juga pemerintah perlu menyediakan transportasi antarmoda dari Halim Perdanakusuma ke pusat kota Jakarta dan dari Tegalluar ke pusat kota Bandung.

“Satu lagi pembangunan proyek infrastruktur juga harus berkeselamatan, tanpa harus dikejar tayang dengan tenggat waktu penyelesaian. Sementara masa 3 tahun ke depan sebenarnya relatif singkat untuk pembangunan infrastruktur sepanjang 142 km apalagi sekaligus pengoperasiannya.”

Sementara itu, Direktur Utama PT. KCIC Chandra Dwiputra mengatakan sejauh ini progres pembangunan konstruksi kereta cepat sudah mencapai 5%. Sedangkan masalah lahan yang sudah diserahkan ke kontraktor sebesar kurang lebih 60% atau seluas 143 km dari total lahan yang sudah dibebaskan sebesar 73%.

“Kami punya kontrak dengan kontraktor itu 36 bulan, itu berarti sampai 2021 semester pertama [selesai]. Progress konstruksi sudah 5%, kalau lihat lahan yang sudah serah-terimakan ada 22 titik kritis kemudian 51 titik lagi,” kata Chandra di Halim Perdana Kusuma, Selasa (3/7).

Tag : Kereta Cepat
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top