Wisata Bahari: Indonesia Perlu Kejelasan Jalur Layar Khusus Wisata

Indonesia harus membuat jalur pelayaran khusus guna mengembangkan sektor pariwisata bahari yang ditargetkan mampu menyumbang 4 juta wisatawan mancanegara pada 2019.
Deandra Syarizka | 25 Juni 2018 18:05 WIB
Ilustrasi - Wisata bahari Anambas

Bisnis.com, JAKARTA — Indonesia harus membuat jalur pelayaran khusus guna mengembangkan sektor pariwisata bahari yang ditargetkan mampu menyumbang 4 juta wisatawan mancanegara pada 2019.

 Raymond T. Lesmana, Anggota Bidang II Tim Percepatan Pengembangan Wisata Bahari Kementerian Pariwisata, menjelaskan tahun lalu terdapat 2.300 kapal layar (yacht) yang singgah di perairan Indonesia. Jumlah itu ditargetkan naik menjadi 5.000 pada 2019.

 “Kami inginkan adanya tata kelola dari laut kita. Wisata bahari itu bukan di pantai, tapi di laut. Jadi, perlu adanya jalur layar wisata di Indonesia,” jelasnya, Senin (25/6/2018).

 Dia menambahkan, meskipun jumlah wisatawan yang dapat ditampung dalam kapal layar hanya sekitar 3 hingga 5 orang/kapal, tetapi wisatawan yang menggunakan moda tersebut memiliki daya beli yang cukup tinggi, sekitar US$50 per hari.

 Selain itu, wisman yang menggunakan kapal pesiar juga memiliki durasi menginap yang jauh lebih lama ketimbang wisman yang datang melalui udara.

 Dia menyebut, saat ini terdapat 19 pintu masuk dan ke luar yang terdapat di Indonesia untuk wisata kapal layarHal ini sesuai dengan Peraturan Presiden No.105/2015 tentang Kunjungan Kapal Wisata Asing ke Indonesia.

 Meski demikian, Raymon menilai jalur perairan yang selama ini dikunjungi oleh kapal layar masih bercampur baru dengan kapal nelayan kecil yang tidak memiliki radar. Akibatnya, kerap ditemukan kecelakaan maupun konflik antara yacht yang dimiliki wisman dengan kapal nelayan.

 Dari segi infrastruktur, dia menyebut saat ini telah banyak pemilik kapal yacht yang juga berinvestasi membangun marina, seperti yang terjadi di Sorong, Lombok, Bali, Banyuwangi, Lawean, Kepualauan Seribu.

 Di lain sisi, pemerintah juga terus menambah jumlah marina atau tempat bersandar kapal yacht di daerah-daerah pariwisata seperti Tanjung Lesung dan Labuan Bajo.

 Ketua Tim Percepatan Pengembangan Wisata Bahari Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Dwisuryo Indroyono Soesilo menyatakan, pemerintah giat mempromosikan wisata bahari di Tanah Air.

 Salah satunya dengan menyelenggarakan reli kapal pesiar internasional bertajuk Wonderful Sail To Indonesia 2018. Rencananya, acara ini akan diikuti oleh 120 kapal layar dari 15 negara.

 “Reli layar ini juga terbesar karena diikuti 120 kapal layar dari 15 negara dengan menyinggahi 53 destinasi di wilayah perairan Indonesia,” ujarnya.

 Dia menjelaskan,  reli kapal layar ini memakan waktu cukup lama yakni berlangsung selama Juni—November 2018 yang melintasi sepanjang  7.000 km perairan nusantara. Sebanyak 70 kapal layar akan berlayar dari Selandia Baru dan akan masuk ke Indonesia pada 25 Juli melalui entry port Debut di  Kabupaten Maluku Tenggara, dan akan singgah di 21 destinasi titik labuh di Indonesia, dan mengakhiri pelayarannya di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau.

 Sementara itu untuk reli layar Wonderful Sail Indonesia (WSI 2018) kloter kedua yang diikuti 20 kapal layar akan mengambil titik awal dari Darwin dan Cairns, Australia dan akan masuk ke Indonesia melalui  Kupang pada 1 Agustus 2018.

 Reli yang  berlangsung pada  1 Agustus  hingga 6 November 2018 ini akan menyinggahi total 53 destinasi wisata di Tanah Air. Dia menyebut setiap pemerintah daerah yang disinggahi telah menyiapkan acara budaya untuk menyambut reli kapal layar tersebut.

 “Kita sudah berhasil menggiring yachts lewat perairan Indonesia. Selanjutnya kita akan membuat mereka stay di sini,” ujarnya.

Tag : pariwisata
Editor : Wike Dita Herlinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top