Kata Pengamat Soal Pembangunan Terminal 4 Bandara Soekarno-Hatta

Pengamat Penerbangan Gerry Soejatman mengatakan proyek pembangunan terminal 4 Bandara Soekarno-Hatta dinilai tidak mendesak dan tidak pula harus buru-buru.
Ilham Budhiman | 21 Juni 2018 21:47 WIB
Presiden Joko Widodo (kedua kiri) didampingi Menhub Budi Karya Sumadi (kiri) dan Direktur Utama PT. Angkasa Pura II Muhammad Awaluddin (kedua kanan) meninjau arus balik Lebaran 2018 di Terminal 1 C Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (21/6/2018). - Antara/Muhammad Iqbal

Bisnis.com, JAKARTA - Pengamat penerbangan Gerry Soejatman menilai proyek pembangunan terminal 4 Bandara Soekarno-Hatta tidak mendesak sehingga tidak harus terburu-buru direalisasikan.

"Kita sudah berapa tahun tidak menikmati bandara yang nyaman, yang ada ketinggalan terus kapasitasnya," kata Gerry saat dihubungi Bisnis, Kamis (21/6/2018).

Menurutnya, kondisi saat ini memang belum mendesak karena situasi di bandara belum dirasa berdesakan. Namun demkian, AP II juga tidak perlu berleha-leha dalam pembangunan proyek ini.

"Tapi saya kira tak perlu buru-buru, tetapi bukan berarti berleha-leha juga. Mulai dari sekarang tak apa-apa," katanya.

Belum lagi ada dua proyek lain yang tengah dikerjakan di Bandara Soetta yaitu pembangunan landasan pacu (runway) sepanjang 3.000 meter dan taxi way sepanjang 3.160 meter.

Kendati demikian, diamemiliki catatan tersendiri yaitu terkait pembenahan infrastruktur lain seperti akses ke bandara yang dinilainya sudah kritis, disamping pembangunan terminal 4.

"Akses ke bandara sudah mulai kritis. Juga akses jalan ke bandara sudah seharusnya ditambah. Selain itu jadwal kereta bandara juga harus ditambah. Hal-hal itu yang harus diperhatikan dan dibutuhkan selain pembangunan terminal," ujarnya.

Apalagi, menyoal aksesibilitas kereta bandara yang dinilainya hanya bisa menampung 25% dari total penumpang yang ada. Padahal, kunjungan ke bandara tidak hanya dari penumpang pesawat.

"Kalau bisa mencapai 50% karena orang yang keluar masuk bandara kan bukan hanya penumpang. Ini yang harus dipikirkan disamping pembangunan terminal 4 yang memang dibutuhkan," katanya.

Dia bahkan optimistis capaian 85 juta penumpang dalam setahun bisa terkejar apabila pihak terkait berkomitmen dengan sungguh-sungguh. Apabila angka itu tercapai, maka bandara ini termasuk yang tersibuk di dunia.

"Saya rasa angka 85 juta bisa, tidak masalah, ini tinggal masalah waktu saja. Karena mayoritas penumpang keluar masuknya dari Jakarta. Sedangkan sekarang kalau tidak salah sudah sampai 65-an juta penumpang, bahkan bisa mencapai 70 juta dalam waktu yang sebentar," kata dia.

Meski demikian, dia tetap mengingatkan agar pihak terkait dapat segera melakukan pembenahan lain seperti yang sudah disebutkan disamping proyek-proyek yang tengah dikerjakan.

"Kalau ingin target 85 juta penumpang. Catatannya adalah perlu pembenahan akses keluar masuk bandara yang sudah saya sebutkan tadi," ungkap Gerry.

Pagi tadi, Presiden Jokowi meninjau pelaksanaan proyek yang tengah dikerjakan di bandara yaitu pembangunan landasan pacu (runway) sepanjang 3.000 meter dan taxiway sepanjang 3.160 meter.

Dalam kesempatan tersebut, Presiden menyinggung soal pembangunan terminal 4 senilai Rp11 triliun guna mengantisipasi lonjakan penumpang di masa depan. Jokowi memperkirakan jumlah penumpang di bandara ini pada 2025 mencapai 100 juta orang.

Tag : bandara soekarno-hatta
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top