Kemenpar Mulai Susun "Master Plan" Gastronomi Indonesia

Kementerian Pariwisata mulai menyusun rencana induk (master plan) gastronomi Indonesia agar dapat dijadikan kanvas pembangunan nasional yang memberikan kontribusi bagi perekonomian.
Feri Kristianto | 21 Juni 2018 14:58 WIB
Aneka panganan Embal. Embal yang terbuat dari tepung kasbi, sejenis singkong khas Kei, diolah menjadi aneka panganan khas daerah, termasuk produk oleh-oleh bagi wisatawan. - JIBI/Siti Munawaroh

Bisnis.com, DENPASAR — Kementerian Pariwisata mulai menyusun rencana induk (master plan) gastronomi Indonesia agar dapat dijadikan kanvas pembangunan nasional yang memberikan kontribusi bagi perekonomian.

Ketua Tim Percepatan dan Pengembangan Wisata Kuliner dan Belanja Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Revita Datau Messakh mengatakan saat ini pihaknya sedang melakukan pemetaan potensi gastronomi di Tanah Air. Rencana induk tersebut ditargetkan rampung pada 2019 sehingga dapat dijadikan landasan pengembangan gastronomi di Indonesia.

“Ini bisa menjadi tulang punggung kerakyatan karena bicara gastronomi dari hulu ke hilir, dari petani peternak ke retoran, chef, makanan dan lain-lain,” jelasnya, Kamis (21/6/2018).

Ketua Akademi Gastronomi Indonesia (AGI) ini menegaskan potensi gastronomi di Tanah Air sangat besar. Namun, untuk membangun master plan ekosistem gastronomi, Kemenpar diakui tidak bisa bertindak sendirian.

Rencana induk ini harus melibatkan kementerian lain seperti Kementerian Koperasi dan UKM (Kemenkop UKM), Kementerian Kesehatan (Kemenkes), maupun kementerian lainnya karena banyak hal yang harus disusun. Vita mencontohkan salah satu unsur yang harus dimasukkan dalam master plan adalah masalah higienis yang domainnya tidak berada di Kemenpar.

Adapun Kemenkop UKM terkait keberadaan pelaku usaha kuliner di setiap daerah yang membutuhkan bantuan permodalan.

“Di mana-mana, master plan ini pekerjaan besar. Coba lihat kalau pergi ke Thailand, pasarnya bersih dan buat makan enaknya minta ampun. Thailand dan Indonesia sama lembabnya kalau soal lalat misalnya, tapi di sana infastruktur bagus dan pengolahan limbah juga baik. Jadi, Indonesia pun harus merevitalisasi pasar kuno agar enak buat makan misalnya,” paparnya.

Menurut Vita, potensi menjadikan pasar di Indonesia sebagai destinasi gastronomi juga sangat besar. Dia menyebut Pasar Gede di Solo sebagai salah satu yang potensial, tetapi masih terkendala masalah kebersihan yang harus segera dibereskan.

Dengan adanya master plan, jika terdapat rencana pengembangan gastronomi maka sudah ada standar yang bisa diadopsi bagi daerah untuk membangun.

Apalagi, Indonesia dinilai sudah seharusnya memiliki rencana induk gastronomi karena kontribusi kuliner terhadap perekonomian nasional sangat besar. Sangat disayangkan jika hingga saat ini belum ada arah yang jelas terkait pengembangan kekayaan Nusantara berupa kuliner.

Padahal, setiap daerah di Indonesia memiliki kekhasan yang dapat dijadikan sebagai potensi gastronomi. Selama ini, lanjut Vita, orang tidak berpikiran serius terkait pengembangan gastronomi meskipun kontribusinya terhadap perekonomian sangat besar.

Selain itu, kuliner juga dapat dimanfaatkan untuk membuka diplomasi.

“Ikan ada berapa dan suku bangsa ada berapa, itu yang saya lihat tidak ada orang serius memikirkan. Semua bicara sustainable, berkelanjutan, local wisdom kemudian melindungi daya tarik, tapi kalau tidak direncanakan dengan benar dan master plan ya bagaimana melindunginya?” tambah Vita.

Tag : kuliner nusantara, kemenpar
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top