Menhub Tepis Anggapan Transportasi Laut Tak Diperhatikan

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menampik anggapan menyoal tidak diperhatikannya moda transportasi laut bila dibandingkan dengan transportasi darat dan udara menyusul adanya sejumlah kapal tenggelam dalam waktu berdekatan.
Ilham Budhiman | 20 Juni 2018 18:54 WIB
Personil Basarnas merapatkan kapal usai melakukan pencarian penumpang korban tenggelamnya Kapal KM Sinar Bangun di perairan Danau Toba di Dermaga Tigaras, Simalungun, Sumatra Utara, Selasa (19/6/2018) dini hari. - ANTARA/Lazuardy Fahmi

Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menampik anggapan menyoal tidak diperhatikannya transportasi laut bila dibandingkan dengan transportasi darat dan udara menyusul adanya sejumlah kapal tenggelam dalam waktu berdekatan.

"Berkaitan dengan tidak diperhatikannya transportasi laut, bisa saya katakan tidak juga," kata Menhub di Kantor Kementerian Perhubungan, Rabu (20/6/2018).

Bahkan, menurut dia transportasi laut tetap menjadi fokus perhatian terutama ketika menghadapi Hari Raya Idulfitri. Pihak Kementerian Perhubungan bahkan menerjunkan tim sesaat sebelum Lebaran untuk melihat secara langsung kelaikan kapal serta Standar Operasional Prosedur (SOP).

Budi juga mengatakan ini dilakukan lantaran bercermin pada pengalaman tahun lalu ketika sejumlah kapal laut tak sesuai prosedur. Temuan itu didapat di Jakarta, Surabaya, Madura, Makassar, Banjarmasin, dan Balikpapan.

"Bahkan, di Madura, kami meminta Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk mengganti sebuah kapal yang tadinya logistik menjadi kapal penumpang. Kami juga menempatkan 5 kapal secara khusus di sana untuk melakukan coverage apabila kekurangan," ujarnya.

"Jadi kalau bisa saya katakan, transportasi laut juga kita perhatikan. Terlebih memberikan mudik gratis yang open sekali," katanya.

Di samping itu, standarisasi kapal laut dari Kementerian Perhubungan juga sebenarnya cukup lengkap sehingga para operator kapal tinggal mentaati prosedur yang sesuai.

"Standarisasi kita sebenarnya cukup lengkap. Namun, dari apa yang kita upayakan adalah bagaimana kita konsisten menindaklanjuti peraturan-peraturan yang ada," ungkapnya.

Adapun peraturan-peraturan yang dimaksud adalah, pertama, setiap tahun kapal-kapal itu dilakukan semacam kir serta ada surat-surat yang dikeluarkan oleh otoritas.

Kedua, dilakukan ramp check, apalagi ketika menghadapi momen-momen yang masif seperti Lebaran. "Apabila ada kapal-kapal tidak memenuhi syarat, maka kapal itu tidak bisa jalan," ujarnya.

Selain itu, lanjutnya, ada tiga peraturan SOP yang ditetapkan Kemenhub bagi operator kapal yang patut dipatuhi. Ketiga peraturan SOP itu antara lain manifes, surat izin berlayar (SIB), dan life jacket.

"Kalau semuanya diikuti dengan baik, maka hal-hal yang tidak diinginkan dapat diminimalisir," katanya.

Seperti diketahui, Kapal Motor (KM) Sinar Bangun tenggelam di Danau Toba pada Senin (18/6/2018) sekira pukul 17.15 WIB. Sejauh ini, 21 korban selamat dan 3 orang dinyatakan tewas. Belum diketahui pasti berapa total seluruh penumpang.

Sebelumnya, KM Cikal juga tenggelam di Banggai, Sulawesi Tengah pada Selasa (12/6/2018). Pada hari yang sama, KM Arista karam di perairan Makassar. Setidaknya 17 penumpang tewas dalam kejadian itu.

Sehari setelahnya, kapal cepat Albert pecah lambung di Selat Bangka dan menyebabkan tiga penumpang tewas.

Tag : kapal tenggelam
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top