KKP dan Lembaga Riset Perikanan Norwegia Akan Kembali Bekerja Sama

Kementerian Kelautan dan Perikanan akan kembali bekerja sama dengan Institute of Marine Research (IMR) Norwegia. Kedua institusi berencana mengembangkan pusat penelitian di Bali.
Sri Mas Sari | 10 Juni 2018 19:29 WIB
Presiden Joko Widodo (kanan) didampingi Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti naik perahu karet untuk meninjau lokasi keramba ikan saat peresmian Keramba Jaring Apung atau "offshore" di Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Cikidang, Babakan, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Selasa (24/4/2018). - ANTARA/Adeng Bustomi

Bisnis.com, JAKARTA -- Kementerian Kelautan dan Perikanan akan kembali bekerja sama dengan Institute of Marine Research (IMR) Norwegia. Kedua institusi berencana mengembangkan pusat penelitian di Bali.

Niat itu disampaikan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti saat berkunjung ke IMR di Bergen, Norwegia, akhir pekan ini. Pusat penelitian itu merupakan pengembangan dari Pusat Litbang Kelautan dan Perikanan milik KKP di Pulau Dewata.

"Nantinya IMR dapat mempromosikan best practices-nya untuk pengelolaan perikanan berkelanjutan di Samudra Hindia dan Pasifik," ujar Susi dalam siaran pers, Minggu (10/6/2018).

IMR merupakan lembaga riset Norwegia yang digunakan oleh Kementerian Perikanan Norwegia untuk mengumpulkan data terkait perikanan, termasuk kajian stok ikan dan kondisi ekosistem laut.

Dalam melaksanakan tugas penelitiannya, IMR memiliki tujuh kapal riset yang setiap tahun berlayar selama 2.000 hari untuk mengumpulkan data terkait ekosistem laut yang diperlukan dalam pengembangan sektor perikanan Norwegia.

Kerja sama KKP dan IMR sebelumnya sudah dilakukan. Selama 2009-2012, kedua lembaga menjalin kerja sama dalam lingkup manajemen perikanan; termasuk kajian stok ikan dan pengembangan budi daya yang fokus pada aspek-aspek operasional, perencanaan, dan kesehatan ikan; serta pendidikan melalui program kursus singkat, study tour, dan pendidikan S2.

CEO IMR Sissel Rogne mengatakan perikanan Norwegia saat ini dalam kondisi baik. Namun, tak dapat dimungkiri, ancaman terhadap sumber daya alam akan berpengaruh langsung kepada industri perikanan Norwegia. Di situlah peran penting IMR untuk menjaga keberlanjutan sumber daya perikanan Norwegia.

“Kami tidak punya waktu banyak. Ancaman terhadap sumber daya perikanan semakin nyata dan berada di depan mata,” ungkap Sissel saat memberikan pidato sambutan kepada delegasi Indonesia.

Norwegia memiliki panjang pantai 100.915 km dengan populasi 5,09 juta orang. Produksi perikanannya mencapai 2-3 juta ton per tahun. Industri perikanan Norwegia dilakukan sejak awal dekade 1900 dengan metode open access yang mengizinkan semua orang, baik dari dalam maupun luar Norwegia menangkap ikan. Norwegia kaya dengan ikan spesias hering, cod, dan salmon.

Namun metode itu mengakibatkan hilangnya stok ikan Norwegia pada 1960-1970-an. Pada dasawarsa 1980, Norwegia memulai reformasi perikanan dengan menutup sektor penangkapan ikannya bagi kapal asing dan memberlakukan sistem perizinan, kuota penangkapan per kapal ikan, pengaturan alat tangkap yang ramah lingkungan, pengawasan yang ketat, dan konservasi laut.

Kebijakan perikanan Norwegia yang ketat membuahkan hasil mulai 1990. Walaupun jumlah penangkap ikan berkurang karena akses yang terbatas, justru jumlah tangkapan ikan meningkat.

Susi mengatakan situasi serupa juga dialami Indonesia, jumlah tangkapan nelayan Indonesia meningkat drastis setelah pelarangan kapal ikan asing dan kapal ikan eks-asing.

Tag : perikanan
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top