Studi Indonesia Flair: Citra Positif Indonesia Kurang Menonjol di Mata Dunia

Kendati memiliki banyak potensi sebagai negara yang tengah berkembang, Indonesia dinilai belum cukup menonjolkan citra positifnya di kancah regional dan dunia.
Deandra Syarizka | 31 Mei 2018 02:01 WIB
Managing Director IPSOS Indonesia Soeprapto Tan (kanan) dalam peluncuran Indonesia Flair, Rabu (30/05). - Bisnis/Deandra Syarizka

Bisnis.com, JAKARTA -- Kendati memiliki banyak potensi sebagai negara yang tengah berkembang, Indonesia dinilai belum cukup menonjolkan citra positifnya di kancah regional dan dunia.

Hal ini terungkap dari studi yang dilakukan oleh Ipsos Indonesia, lembaga survei pemasaran yang berpusat di Prancis, yang bertajuk "Indonesia Flair: Dealing With Opposites".

Studi yang memaparkan sejumlah paradoks yang terjadi di Tanah Air ini dilakukan dalam kurun waktu dua tahun terakhir, dengan 1.000 responden di lima kota besar baik melalui wawancara tatap muka, survei, maupun panel online.

Managing Director IPSOS Indonesia Soeprapto Tan menjelaskan pihaknya baru meluncurkan studi Indonesia Flair pada tahun ini, setelah pertama kali meluncurkan studi tersebut secara global di Prancis pada 2005.

“Studi ini adalah hasil pengamatan kami dua tahun belakangan. Indonesia selalu dibilang extreme right. Padahal, ada gap baik dari struktur ekonomi, demografi, dan sosial. Itu yang menjadi fokus kami tahun ini,” ujarnya saat peluncuran Indonesia Flair, Rabu (30/05/2018).

Soeprapto mengungkapkan studi tersebut merangkum 10 kondisi kontradiktif yang menggambarkan situasi negeri ini. Berikut kondisi yang dimaksud:

1. Sebagai negara yang menyumbang 40% Produk Domestik Bruto (PDB) di Asean, Indonesia dinilai kurang bisa memaksimalkan potensi dan menonjolkan citra positifnya. Penyelenggaraan acara berskala internasional seperti Asian Games dan IMF-World Bank Meeting belum cukup membuat negara di dunia untuk memahami potensi Indonesia yang beraneka ragam.

2. Indonesia akan semakin berpengaruh di wilayah Asia Pasifik, dengan pertumbuhan populasi yang cukup besar, dari 257 juta jiwa penduduk pada 2010, dan diperkirakan tumbuh menjadi 322 juta jiwa pada 2050. Bandingkan dengan Jepang yang berpenduduk 126 juta pada 2015, dan 107 juta pada 2050 serta China dengan 1,38 miliar penduduk pada 2015 dan diperkirakan menjadi 1,35 miliar pada 2050

“Populasi sebanyak ini akan mendorong konsumsi, karena 2030 kita akan punya banyak orang usia produktif yang konsumtif, yang akan menggerakkan perekonomian,” jelas Soeprapto.

3. Indonesia menghadapi banyak hal yang bertentangan, salah satunya adalah ketimpangan ekonomi. Hal ini terbukti dari tingkat PDB Indonesia yang berada di urutan 107 dunia, tapi 100 juta dari 260 juta jiwa penduduknya masih hidup di bawah garis kemiskinan. Di lain sisi, jumlah kekayaan empat orang terkaya di Indonesia, ternyata melebihi kekayaan 100 juta orang termiskin di negeri ini.

4. Indonesia merupakan negara muda. Usia 30-an merupakan usia rata-rata penduduk di Indonesia, sehingga membuatnya menjadi negara berpenduduk usia muda, lebih muda dari Jepang dengan rata-rata umur penduduk 42,5 tahun, China 36-37 tahun, maupun Thailand 35,7-37,7 tahun. Mayoritas penduduk muda ini memedulikan isu seperti perencanaan pembangunan, akselerasi karir, promosi jabatan, dan posisi di kantor tawaran pekerjaan. Bagi generasi muda,pekerjaan di sektor swasta tampak lebih menjanjikan dibandingkan sektor publik.

5. Permintaan terhadap apartemen diprediksi akan lebih tinggi dibandingkan dengan permintaan rumah tapak bagi keluarga muda, seiring dengan meningkatnya gaya hidup milenials. Sektor pariwisata dan hiburan juga terkena dampak positif dari gaya hidup millenials.

6. Indonesia menjadi pasar besar dan semakin kompetitif. Persaingan antara brand lokal dan brand internasional menjadi kian ketat, mengingat semakin banyak produk lokal yang tumbuh dan memiliki daya saing. Bila 5-6 tahun lalu produk perusahaan multinasional sangat dominan di pasaran, peta persaingan tersebut mulai berubah pada 3-4 tahun terakhir. Beberapa brand ritel internasional justru berguguran, sementara produk lokal tumbuh menjamur. Hal ini terutama terjadi di sektor Fast Moving Consumers Good (FMCG) dan e-commerce.

7. Indonesia semakin akrab dengan segala hal yang digital. Internet dianggap sebagai jawaban atas setiap permasalahan atau keinginan. Berdasarkan survei internet security and trust, negeri ini tercatat sebagai populasi yang paling percaya kepada internet, dengan tingkat kepercayaan mencapai 65%, jauh lebih tinggi dibandingkan Korea 34% dan Jepang 32%.

8. Individualisme berkembang amat cepat di era digital, di mana status sosial dan keunikan pribadi dianggap menjadi kunci kesuksesan. Salah satu gaya hidup yang menonjol adalah kebiasaan rata-rata masyarakat yang mengganti smartphone setiap 2 tahun sekali, dari sebelumnya 5 tahun sekali.

9. Adanya dualistik lanskap media, di mana televisi masih dianggap sebagai media utama untuk menjadi sarana hiburan. Sementara itu, internet adalah tempat masyarakat berbagi informasi, berita, dan pendapat.

10. Indonesia sangat membutuhkan perempuan. Berbagai peran perempuan dilakukan, mulai dari sebagai istri, ibu, bibi, kakak dan rekan kerja. Semakin banyak fasilitas khusus perempuan, seperti gerbong khusus perempuan di kereta api. Perempuan juga dinilai semakin independen secara finansial, dan memiliki kebebasan dalam mengatur pengeluarannya, tanpa membebani keuangan para suaminya.

Tag : indonesia
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top