PPRO Raih Laba untuk Ritel Sampai Rp800 Miliar

PT PP Properti Tbk, pengembang pelat merah ini mengaku masih mampu mendulang sekitar Rp800 miliar untuk pembangunan ritel pada saat bisnis ini diprediksikan melemah.
Gloria Fransisca Katharina Lawi | 28 Mei 2018 21:31 WIB
PT PP Properti Tbk - bumn.go.id

Bisnis.com, JAKARTA – PT PP Properti Tbk, pengembang pelat merah ini mengaku masih mampu mendulang sekitar Rp800 miliar untuk pembangunan ritel pada saat bisnis ini diprediksikan melemah.

Direktur Utama PT PP Properti Tbk, Taufik Hidayat mengatakan tahun ini perusahaan memang mendapatkan penambahan pendapatan dari bisnis ritel. Menurut Taufik, bisnis ritel memang cenderung mengalami penurunan seiring dengan pergeseran pola berbelanja masyarakat dari tradisional ke internet atau online.

“Ritel memang turun tahun ini, karena secara umum properti berat dibandingkan tahun lalu. Makanya, strategi kita adalah dengan mengejar bulkselling,” terang Taufik melalui siaran pers, Senin (28/5/2018).

Dia menyebut, pemasukan senilai Rp800 bisa didapatkan dari beberapa mal baru yang akan dibangun. Pertama adalah Kaza City Mall, Lagoon Avenue Bekasi, dan Balikpapan Ocean Square. Ada pun pembukaan mal dari PT PP di Balikpapan selaras dengan hasil riset dari DPD Realestat Indonesia (REI) DKI Jakarta bahwa Balikpapan menjadi salah satu arena yang tengah dilirik pengembang untuk pembangunan mal.

Menurut Wakil Ketua Bidang Riset & Luar Negeri DPD REI DKI Jakarta, Chandra Rambey, pertumbuhan terbesar kedua adalah di Bandung sebesar 11%, lalu di Bekasi dan Depok yang sama-sama 4%, dan Balikpapan juga Palembang yang sama-sama 3%.

“Mayoritas 69% membangun di atas lahan lebih dari 2 hektare. Sementara 10% membangun bangunan kurang dari 10 ribu meter persegi; 45% antara 10 – 30 meter persegi, dan 45% di atas 30 ribu meter persegi,” terang Chandra.

Chandra mengungkapkan, ada 48% pengembang membangun pusat perbelanjaan dengan segmen untuk kelas menengah, 34% untuk kelas menengah atas. Sementara itu, terkait harga jual, sebanyak 55% pengembang menjual ruang-ruang pada pusat perbelanjaan dengan harga sekitar Rp36 juta sampai dengan Rp45 juta per meter persegi.

Dia juga menambahkan bahwa mayoritas 82% pembeli atau calon tenant akhirnya menggunakan skema pembayaran kombinasi cicilan developer dan tunai keras. Sementara itu, ada 70% cicilan ke developer mencicil 36 kali. Serta sebanyak 91% yang memakai tunai keras menggunakan cicilan 6 kali

“Ada 7% pengembang menyatakan biaya membangun kurang dari Rp100 milIar; mayoritas 43% membangun dengan biaya antara Rp101 miliar sampai Rp500 miliar,” jelas Chandra.

Sekitar 64% menyatakan perkiraan soft cost biaya konstruksi berkisar 8%-10 % serta; 21% pengembang memperkirakan soft cost antara 6%-8%. Sisanya, ada 11% pengembang memperkirakan soft cost dari biaya konstruksi berkisar antara 3%-5%.

Tag : ppro
Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top