Menperin: Impor Bahan Baku Bakal Pacu Manufaktur

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menilai defisit neraca perdagangan pada April 2018 memiliki dampak positif untuk jangka panjang.
Annisa Sulistyo Rini | 16 Mei 2018 17:12 WIB
Presiden Joko Widodo (ketiga kiri) didampingi Menperin Airlangga Hartarto (kiri), Dirut Pelindo II Elvyn G. Masassya (kedua kiri), Menteri BUMN Rini Soemarno (tengah), Menhub Budi Karya Sumadi dan Mendag Enggartiasto Lukita menekan tombol pelepasan ekspor komoditas Indonesia menggunakan kapal kontainer berukuran raksasa, di Terminal JICT, Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (15/5/2018). - ANTARA/Wahyu Putro A

Bisnis.com, JAKARTA—Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menilai defisit neraca perdagangan pada April 2018 memiliki dampak positif untuk jangka panjang.

Hal ini disebabkan impor pada periode tersebut didominasi oleh bahan baku/penolong dan barang modal.

"Kalau impor bahan baku dan barang modal, artinya realisasi dari investasi. Ini positif," ujarnya di Kompleks Kementerian Koordinator Perekonomian di Jakarta, Rabu (16/5/2018).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), defisit neraca perdagangan pada April 2018 mencapai US$1,63 miliar. Impor bahan baku/penolong menyumbang kontribusi sebesar 74,32% dari total nilai impor, sedangkan barang modal dan konsumsi masing-masing berkontribusi sebesar 16,29% dan 9,39%.

Secara kumulatif pada periode Januari hingga April 2018 defisit neraca perdaganga senilai US$1,31 miliar. Padahal, pada periode yang sama tahun lalu neraca perdagangan mengalami surplus senilai US$5,43 miliar. 

Airlangga menuturkan impor bahan baku dan barang modal tersebut diharapkan dapat memacu ekspor hasil manufaktur. Selain itu, untuk mendorong ekspor dan mengurangi impor, investasi perlu didorong, terutama investasi di sektor hulu.

"Nah, solusinya pemerintah akan memberikan insentif untuk industri hulu dan pionir, ini sedang dibahas," katanya.

Sebelumnya, ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara menilai defisit neraca perdagangan yang terjadi pada April 2018 adalah lampu kuning untuk pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Dengan melebarnya defisit neraca perdagangan, dia menyatakan hal itu mencerminkan semakin besarnya permintaan valuta asing untuk kebutuhan impor. "Ini lampu kuning buat nilai tukar rupiah," katanya kepada Bisnis, Selasa (15/5).

Saat ini, paparnya, kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sangat mengkhawatirkan disebabkan oleh ekspektasi investor global terkait dengan kenaikan suku bunga The Fed.

Bhima menyatakan investasi langsung asing dan pariwisata dapat menjadi solusi cepat membantu meredam tekanan impor yang berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan Indonesia lebih dari 2% pada tahun ini.

Upaya mendorong transaksi berjalan Indonesia ke arah surplus akan membantu ketahanan nilai tukar rupiah di tengah gejolak eksternal.

Bhima juga memproyeksikan nilai tukar rupiah masih berpotensi digoyang hingga tembus Rp14.300 per dolar AS pada akhir semester II/2018 seiring dengan adanya kenaikan Fed Fund Rate (FFR) pada Juni 2018.

Dengan kondisi ini, dia melihat transaksi berjalan bisa bergerak melebar ke kisaran 2,5%-2.8% pada 2018. "Kisaran tersebut sudah lampu kuning sebenarnya karena lajunya cukup cepat dibandingkan tahun lalu 1,7%," tegasnya.

Tag : Neraca Perdagangan
Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top