Perpres ISPO Diharapkan Rampung Bulan Depan

Penyusunan Peraturan Presiden (Perpres) tentang Indonesian Sustainable Palm Oil System (ISPO) masih belum rampung.
Annisa Margrit | 25 April 2018 13:44 WIB
Darmin Nasution dalam The 6th International Conference on Oil Palm and Environment yang bertemakan Embracing Sustainable Palm Oil: Solutions for Local Production and Global Change di Nusa Dua, Bali, Rabu (24/4/2018) - Annisa Margrit

Bisnis.com, NUSA DUA — Penyusunan Peraturan Presiden (Perpres) tentang Indonesian Sustainable Palm Oil System (ISPO) masih belum rampung.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan beleid tersebut masih dibahas di tingkat menteri koordinator (menko). Namun, dia meyakini Perpres ini bakal kelar dalam waktu dekat.

“Belum [rampung], kelihatannya bisa kita selesaikan dalam waktu tidak lama. Mungkin dalam 1 bulan ke depan,” ujarnya di sela-sela The 6th International Conference on Oil Palm and Environment (ICOPE) yang bertemakan Embracing Sustainable Palm Oil: Solutions for Local Production and Global Change di Nusa Dua, Bali, Rabu (25/4/2018).

Berdasarkan catatan Bisnis, secara umum Perpres ISPO memuat langkah-langkah percepatan sertifikasi ISPO bagi pekebun sawit plasma dan pekebun sawit swadaya serta penerimaannya di pasar global.

Terkait banyaknya kampanye negatid terhadap kelapa sawit, Darmin mengklaim opini-opini miring itu tidak benar.

Menurutnya, lahan yang ditanami sawit sekarang adalah lahan yang sudah ditebang sejak 30-60 tahun lalu. Jika tidak ditanami kelapa sawit, maka lahan tersebut akan hancur.

Komoditas ini juga dinilai lebih efisien dibandingkan produksi vegetable oil lainnya seperti yang dihasilkan dari kedelai, sunflower oil, dan rapeseed oil.

“Sawit adalah jawaban Indonesia dalam isu lingkungan. Sawit adalah tanaman yang paling efisien dan sejalan dengan keberlanjutan lingkungan. Riset menunjukkan crop lainnya lebih berkontribusi terhadap deforestasi,” terangnya.

Darmin mengungkapkan solusi yang tepat adalah bagaimana sektor bisnis dan lingkungan bisa bekerja sama dalam mengembangkan sawit yang ramah lingkungan. Apalagi, populasi manusia di dunia akan terus bertambah sehingga diperlukan komoditas dengan produktivitas dan efisiensi tinggi untuk menjamin keamanan pangan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
minyak sawit

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top