Kenaikan Penumpang Tertinggi Se-Asia Pasifik, Ini Tantangan Penerbangan RI

Pertumbuhan jumlah penumpang penerbangan di Indonesia menjadi paling besar di Asia Pasifik. Meski begitu Indonesia masih memiliki tantangan yang harus dihadapi.
Jaffry Prabu Prakoso | 25 April 2018 18:01 WIB
Ilustrasi: Aktivitas ground handling pesawat Garuda Indonesia di Bandara Soekarno-Hatta - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Pertumbuhan jumlah penumpang penerbangan di Indonesia menjadi paling besar di Asia Pasifik. Meski begitu Indonesia masih memiliki tantangan yang harus dihadapi.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Agus Santoso mengatakan hambatan yang harus dilewati adalah maskapai terlalu fokus pada penerbangan domestik.

“Memang karena 40% penduduk Asean ada di Indonesia. Tapi saya juga mendorong ada penetrasi di luar negeri,” ungkapnya dalam diskusi Peluang dan Tantangan Industri Penerbangan Indonesia di Era Asean SAM yang diselenggarakan Bisnis Indonesia di Jakarta pada Rabu (25/4/2018).

Selain itu, perusahaan penerbangan nasional belum memiliki jaringan penerbangan internasional dan domestik yang memadai.

Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Agus Santoso sedang memberikan materi dalam diskusi Peluang dan Tantangan Industri Penerbangan Indonesia di Era Asean SAM yang diselenggarakan Bisnis Indonesia di Jakarta, Rabu (25/4/2018). - Bisnis.com/Jaffry Prabu Prakoso

Agus menambahkan pasar Asean juga memiliki karakteristik permintaan yang berbeda-beda sehingga memerlukan perlakuan tersendiri.

Berdasarkan data Kementerian Perhubungan, jumlah penerbangan di Indonesia sejak 2015 mengalami kenaikan dua digit setiap tahunnya.

Capaian tersebut jauh berbeda dengan negara Asia Pasifik lainnya yang hanya sekitar 7%-8%. Agus menargetkan tahun ini Indonesia juga mengalami peningkatan dua digit atau 11% dari tahun sebelumnya.

Dengan jumlah angkut mencapai 128 juta jiwa pada 2017, ini membuat penerbangan Indonesia dilirik maskapai asing.

Akan tetapi, Kemenhub hanya bisa memberikan izin kepada lima bandara untuk Asean Open Sky (kebijakan udara terbuka di Asean), yakni Bandara Soekarno Hatta, Denpasar, Kualanamu, Surabaya, dan Makasar.

“Kita harus bisa mengukur. Nanti kasihan dengan [maskapai] Garuda, Sriwijaya, dan lainnya. Kita buka [open sky], tapi tidak semua,” tambahnya.

Tag : penerbangan
Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top