Perumahan dan Lahan Industri, fokus utama investor

Terlampauinya kuartal I/2018 masih dibayangi dengan kekhawatiran tentang perang perdagangan dan volatilitas yang tinggi menekan pasar global. Kendati demikian, sektor properti di Indonesia masih akan naik didukung oleh pertumbuhan wilayah yang kuat dengan melihat kebijakan pemerintah ke depannya.
Anitana Widya Puspa | 24 April 2018 18:19 WIB
Properti di Jakarta - Reuters/Darren Whiteside

Bisnis.com, JAKARTA—Terlampauinya kuartal I/2018 masih dibayangi dengan kekhawatiran tentang perang perdagangan dan volatilitas yang tinggi menekan pasar global. Kendati demikian, sektor properti di Indonesia masih akan naik didukung oleh pertumbuhan wilayah yang kuat dengan melihat kebijakan pemerintah ke depannya.

Steve Atherton, Director of Capital Markets and Investment Services at Colliers International, Indonesia, mengatakan pada kuartal sebelumnya, telah melihat beberapa transaksi investasi yang signifikan dalam pasar properti Indonesia terutama di pasar perumahan dan sektor industri.

“Pada kuartal berikutnya, kami percaya industri dan sektor perumahan akan tetap menjadi fokus utama bagi banyak investor. Terjadi peningkatan substansial dalam permintaan yang kami terima dari investor asing yang berencana memasuki pasar,” katanya melalui riset yang dikutip Selasa (24/4).

Steve menuturkan banyak investor asing memasuki pasar perumahan dengan membeli tanah dari pengembang atau membentuk joint ventures (JV) dengan pengembang Indonesia. Colliers juga mencatat pembangunan gudang logistik multitingkat pertama di Indonesia oleh institusi asing.

Selain itu di sektor perkantoran, penyewa non tradisional seperti perusahaan start-up mengakuisisi ruang terbesar, Namun, mereka membayar tarif sewa dengan rendah dan menempatkan tekanan pada pengembalian investor.

Selain itu, Colliers juga merangkum terjadi dua transaksi en-bloc di Indonesia senilai US$86 juta. Pertama sebuah kantor keluarga mengakuisisi lahan sekitar USD49 juta. Tanah tersebut masih dikategorikan untuk kantor pemerintah dan pemilik baru harus menunggu hingga 2019 sebelum mereka dapat mengubahnya menjadi zonasi komersial.

Kedua, sebuah entitas usaha patungan Cina-Indonesia yang berfokus pada sektor manufaktur membeli Graha Unilever, gedung perkantoran seluas 12.000 m² seharga USD37 juta. Bangunan ini sebelumnya kantor pusat Unilever Indonesia sebelum perusahaan dipindahkan ke Bumi Serpong Damai (BSD), barat Jakarta.

Selain itu ada transaksi produk perhotelan di Bali yang dirahasiakan nilai transaksinya dari sebuah perusahaan perusahaan offshore private equity.

Hal itu kata dia ini menunjukkan kepercayaan investor, utamanya Jakarta masih merupakan tujuan paling populer bagi investor asing tetapi isu akuisisi lahan menjadi tantangan terberat bagi mereka. Oleh karena itu, banyak investor memilih bermitra dengan lokal pengembang yang memiliki akses langsung cepat ke lahan.

Menurutnya banyak pengembang bertaruh besar pada infrastruktur dengan menciptakan Transit Oriented Perkembangan (TOD) di kota dan dekat Bandara. Pemerintah secara ambisius telah menghabiskan pengeluaran jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya di bidang infrastruktur, menciptakan pekerjaan dan pengembangan proyek.

Pemerintah sebut dia juga menunjukkan dukungan  dengan meningkatkan plot rasio untuk semua proyek kereta api di sekitarnya dan menciptakan prospek positif bagi pengembang dan pengguna akhir.

Dia melanjutkan, kondisi berbeda terjadi untuk perkantoran dan ritel yang berdiri sendiri akan mengalami kesulitan karena jumlah pasokan yang terus masuk. Menurutnya lokasi strategis dengan konsep kawasan terpadu akan memiliki keunggulan kompetitif.

Tag : gedung perkantoran
Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top