Menteri Susi di Antara Google, ‘Bajak Laut’, dan Illegal Fishing

Ganasnya lautan dan sosok sangar nelayan nakal tidak pernah membuat gentar Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Susi punya senjata yang sama mengintimidasi di sisinya, Google.
Renat Sofie Andriani | 20 April 2018 13:45 WIB
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengikuti rapat kerja dengan Komisi IV DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (12/9). - ANTARA/Hafidz Mubarak A

Bisnis.com, JAKARTA – Ganasnya lautan dan sosok sangar ‘nelayan nakal’ tidak pernah membuat gentar Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Susi punya senjata yang sama mengintimidasi di sisinya, Google.

Melalui kerja sama dengan perusahaan mesin pencari (search engine) tersebut, Susi dapat secara real time menindak aktivitas penangkapan ikan ilegal (illegal fishing), setelah ribuan lokasi kapal terungkap secara online.

Dalam misi untuk membersihkan industri yang beberapa lamanya dipenuhi aktivitas illegal fishing, Susi telah meyakinkan operator lokal yang kuat dengan kepentingan asing untuk menghentikan praktik ini.

“Anda punya uang, punya kekuasaan, mungkin juga jangkauan untuk membuat saya gagal atau bahkan pada dasarnya mengenyahkan saya. Tapi saya juga tidak akan berhenti,” tegasnya dalam beberapa kali kesempatan setelah bergabung dalam pemerintahan Presiden Joko Widodo pada 2014, seperti dikutip Bloomberg.

Setelah memburu para oknum illegal fishing dan meledakkan perahu mereka di depan umum, Susi mengambil pendekatan yang lebih canggih.

Ia telah bekerja sama dengan Google untuk menggunakan satelit demi memantau para ‘nelayan nakal’ dari luar angkasa. Kerja sama ini berbuah hasil.

Stok ikan Indonesia telah meningkat lebih dari dua kali lipat dalam dua tahun, dan industri yang ‘dirampok’ oleh orang asing selama beberapa dekade sekali lagi berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi.

Potensi bumi pertiwi yang terdiri dari sekitar 17.000 pulau ini memang sangat luas. Meskipun penangkapan ikan saat ini hanya berkontribusi 2,6% dari produk domestik bruto Indonesia, porsi ini telah tumbuh sekitar 40% sejak Susi memulai perannya.

Pada saat itu, ada sekitar 10.000 kapal asing yang menangkap ikan secara ilegal di wilayah Indonesia. “Mereka semua sekarang pergi,” ujar Susi.

‘Bajak Laut Global’

Tapi bukan berarti permasalahan ini sudah tuntas. Susi mengatakan kapal-kapal lokal masih berkolaborasi dengan ‘bajak laut global’ yang menangkap ikan di luar zona yang diizinkan, untuk kemudian dikirimkan ke luar negeri. Di sinilah Google mendapati perannya.

“Mereka masih mencuri dari kami. Kami memantaunya pada Google fishing watch,” tutur Susi.

“Mereka menggunakan perusahaan-perusahaan dan bisnis-bisnis yang berafiliasi dengan Indonesia dan pada dasarnya mengambil tangkapan mereka beberapa mil di luar zona ekonomi eksklusif, di mana induk kapal berpendingin sedang menunggu,” lanjutnya.

Tahun lalu, Indonesia menjadi negara pertama yang berbagi informasi Sistem Pengawasan Kapal (Vessel Monitoring System), data milik pemerintah yang digunakan untuk memonitor lalu lintas maritim, dengan Global Fishing Watch.

Global Fishing Watch adalah platform pemetaan online yang didirikan bersama oleh Google dan didanai oleh sejumlah mitra, termasuk Leonardo DiCaprio Foundation dan Bloomberg Philanthropies.

Prakarsa Susi membuat hampir 5.000 kapal yang sebelumnya tidak terlihat menjadi terlihat. Ia pun menyerukan negara lain untuk mengikuti jejaknya. Seruannya didengarkan. Tahun lalu, Peru berkomitmen untuk menyediakan data penangkapan ikannya.

Brian Sullivan, manajer Google Ocean and Earth Outreach, mengatakan informasi dari VMS Indonesia telah diberikan melalui algoritme yang sama yang digunakan oleh Global Fishing Watch untuk menghasilkan kumpulan analitik baru.

Ini kemudian ditambahkan ke citra satelit mentah untuk memperlihatkan jejak kegiatan memancing yang lebih rinci secara mendekati real time.

“Susi berkata kepada kami 'Saya menyukai apa yang Anda kerjakan, kami ingin melihat bagaimana kami dapat menggunakan informasi itu di Indonesia.' Dia mungkin adalah salah satu menteri paling progresif di bidang perikanan,” ucap Sullivan.

Jangan Main-main!

Dengan menggunakan pembelajaran mesin (machine learning) serta memperhatikan cara kapal bergerak, teknologi Google mampu menetapkan pola, juga menentukan apakah kapal sedang transit atau memancing.

Sebuah studi yang diterbitkan bulan lalu menemukan bahwa aktivitas penangkapan ikan asing di Indonesia turun lebih dari 90% dan total penangkapan ikan mencapai 25%, menyusul kebijakan ketat yang diusung Susi, termasuk larangan terhadap semua kapal milik dan buatan asing untuk menangkap ikan di Indonesia.

“Kami tahu seperti apa kondisinya saat sebuah kapal sedang berkomunikasi dengan transmisi karena melihat posisi kapal itu,” kata Sullivan.

“Jika kemudian keadaan menjadi hening untuk sementara lalu muncul kembali di sisi lain dari area kelautan yang terlindungi, maka ini akan dianggap kegiatan yang mencurigakan,” tambahnya.

Pada tahun 2016, Indonesia menandai perayaan Hari Kemerdekaan dengan menenggelamkan sekitar 70 kapal penangkap ikan asing, sebagian besar dari Vietnam dan juga China. Pesan yang disampaikan jelas. Negeri ini siap melindungi daerah penangkapan ikan yang menguntungkan, termasuk di Laut China Selatan.

Sejak akhir 2014, ada lebih dari 350 kapal lain yang dibenamkan Susi.

“Mereka mengambil sumber daya kami. Jika kami tidak mengakhiri mereka, mereka akan kembali dan menangkapi ikan lagi. Saya ingin memberi tahu semua orang 'Sadarilah, mereka sekarang bergerak ke wilayah Anda',” kata Susi.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
google, Susi Pudjiastuti

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top