JICT Didesak Efisienkan Layanan Peti Kemas

Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok menyatakan agar pengelolaan layanan bongkar muat peti kemas di Jakarta International Container Terminal (JICT) dapat lebih efisien sehingga patut menjadi contoh terhadap pengelolaan terminal peti kemas lainnya di Indonesia.
Akhmad Mabrori | 18 April 2018 17:15 WIB
Kegiatan Pendalaman Kolam Dermaga JICT, Rabu (6/9/2017). - Bisnis/A. Mabrori

Bisnis.com, JAKARTA – Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok menyatakan agar pengelolaan layanan bongkar muat peti kemas di Jakarta International Container Terminal (JICT) dapat lebih efisien sehingga patut menjadi contoh terhadap pengelolaan terminal peti kemas lainnya di Indonesia.

Arif Toha Tjahjagama, Kepala Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok, mengatakan hal tersebut saat perayaan HUT ke19 JICT yang dilaksanakan dilapangan parkir terminal peti kemas tersebut, di kawasan pelabuhan Tanjung Priok, hari ini Rabu (18/4/2018).

"Selama ini JICT telah menjadi pelopor bagi kegiatan bongkar muat petikemas di Indonesia. Kami berharap JICT dapat terus menjadi contoh bagi terminal petikemas lainnya termasuk soal pelayanan bagi pengguna jasanya, mau pun kargo owner dapat lebih efisien dan makin transparan,"tuturnya.

Pada keaempatan ini JICT  juga memberikan penghargaan kepada empat orang operator crane terbaik di JICT yang telah melakukan tugasnya dengan pelayanan lebih dari 30 boks per jam serta satu orang operator yang baru saja pensiun.

Direktur Utama JICT Gunta Prabawa mengatakan selama 19 tahun beroperasi manajemen tetap berkomitmen menjadikan JICT sebagai terminal pilihan pengguna jasa dengan sejumlah investasi peralatan dan pengembangan sistem IT yang sudah dilakukan.

Bahkan kata dia, selama 19 tahun beroperasi sebagai terminal terbesar yang melayani bongkar muat peti kemas ekspor impor di pelabuhan Tanjung Priok, JICT telah menghandle peti kemas sebanyak 35 juta twenty foot equivalent units (TEUs).

"Sementara itu tahun ini kami menargetkan bisa menghandle lebih dari 2 juta TEUs," ujarnya kepada Bisnis.

Gunta mengungkapkan, kini perseroan lebih memfokuskan pada konsolidasi internal, mulai dari SDM hingga inventarisir peralatan bongkar muat yang dioperasikan.

"Kita konsolidasikan dulu, makanya dari sisi internal kami kuatkan kembali untuk menggapai target yang sudah ditetapkan pemegang saham," paparnya.

Berdasarkan catatan Bisnis, gejolak internal JICT terjadi sepanjang empat tahun terkahir mulai dari isue perpanjangan kontrak terminal tersebut hingga pada melambatnya performance terminal JICT pasca penggantian vendor alat bongkar muat di terminal tersebut pada akhir 2017.

Adapun pengoperasian dan pengelolaan terminal JIC dikawasan pelabuhan Tanjung Priok, saat ini dikendalikan melalui kepemilikan saham antara Hutchison Port Indonesia (HPI) dan PT.Pelabuhan Indonesia II/IPC.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
jict

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top