Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

BISNIS RITEL: Kuncinya, Pahami Perubahan Pasar

Bisnis ritel harus mulai melakukan inovasi dan antisipasi dengan tren yang berkembang.
Agne Yasa
Agne Yasa - Bisnis.com 20 Maret 2018  |  22:57 WIB
Ilustrasi - Bloomberg
Ilustrasi - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Bisnis ritel harus mulai melakukan inovasi dan antisipasi dengan tren yang berkembang.

Aviliani, Pengamat Ekonomi dari Indef, mengatakan jika pengusaha tidak bisa mengantisipasi perubahan gaya hidup maka perusahaannya akan mati.

“Jadi saya lebih melihatnya pada [kemampuan] dalam mengantisipasi pasar,” kata Aviliani dalam acara Afternoon Tea Talks with Sogo, bertajuk How Retail Business Contribute to Indonesia’s Economic Growth, Selasa (20/3/2018).

Dia mengungkapkan 43% angkatan kerja atau penduduk usia produktif merupakan generasi milenial yang sudah fasih digital.

“Pada 2030, mau tidak mau sektornya akan berubah, makanya dalam perencanaan bisnisnya harus berubah kalau tidak akan ketinggalan sama pasar,” katanya.

Aviliani menambahkan keberadaan Internet juga mengubah pola konsumsi. Perubahan pola konsumsi masyarakat bergerak ke arah kegiatan waktu luang dimana konsumen sekarang lebih selektif dan perlu diberikan pengalaman (experience).

“Dulu kita punya jualan CD, sekarang sudah tidak ada lagi, orang bisa download. Artinya bahwa [perubahan] itu sudah terjadi. Ini yang harus diantisipasi, mana orang yang masih bisa offline, mana yang sudah hanya dengan online,” jelasnya.

Dia menekankan bisnis harus selalu melihat perubahan demand atau kebutuhan. Dalam kesempatan ini, Aviliani juga memberikan contoh kecenderungan belanja di konvensional dan online.

Survei PwC terhadap lebih dari 24.000 konsumen di 29 neara untuk laporan Total Retail 2017 mencatat untuk produk buku, musik, film dan video game, kecenderungan belanja online lebih besar dengan 60% dibandingkan belanja konvensional yang 28%.

Adapun untuk barang kelontong, kecenderungan belanja konvensional masih besar dengan 70% dibandingkan dengan belanja online yang 23%.

“Ada yang online mendominasi dibandingkan konvensionalnya, ada yang masih di konvensional memgang peranan penting. Sekarang saja, furnitur sudah pakai online juga. Itu harus diantisipasi,” katanya

Namun, Aviliani mengatakan kehadiran online dan pengaruhnya pada bisnis ritel konvensional sebaiknya tidak disikapi berlebihan karena sektor online jumlahnya masih kecil yaitu belum sampai 2%.

“Belum mensubtitusi offline dengan online tetapi bahwa offline harus punya online, iya, jadi dua-duanya harus. Jadi menurut saya tidak apa-apa dipadukan, jangan mendikotomikan antara online dan offline,” jelanya.

Menurutnya saat ini bisnis ritel juga sudah mulai melakukan pembenahan dan masuk ke dua saluran ini, offline dan online. Dia mengatakan dengan memadukan kedua saluran penjualan tersebut biasanya pertumbuhan penjualan dapat lebih tinggi dibandingkan yang hanya mengandalkan satu saluran.

Aviliani mengatakan jika melihat tren yang terjadi di negara maju pun, gerai offline tetap ada sehingga tidak perlu disikapi berlebihan.

“[Online] masih di bawah 1%, nanti pun kalau di 2030 diprediksi mencapai 10%, usia milenial makin naik diperkirakan 60%-70%, itu juga belum sampai [menggantikan],” katanya.

Dia menambahkan anak milenial ini justru lebih suka berkumpul dengan teman-temannya. Artinya, pelunag ini harus mampu ditangkap pelaku bisnis ritel, misalnya dengan menghadirkan tempat makan dan tempat belanja secara berdampingan.

“Jadi cocok jika ritel harus ada tempat restoran, jadi orang tidak kemana-mana,” katanya.

Dia mengatakan ritel ke depan harus berani membaca pasar karena kondisi pasar yang sudah berubah.

Kemudian, tingkat persaingan yang tinggi seharusnya menjadi kesempatan untuk melakukan kolaborasi.

“Saling banting harga, nanti merugi, jadi eranya berkolaborasi,” katanya.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ritel
Editor : Linda Teti Silitonga
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top