Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Kanada Bersumpah 'Balas Dendam' Jika Terkena Tarif Baja dan Aluminium AS

Kanada bersumpah akan melakukan pembalasan jika Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar mengenakan tarif yang tajam terhadap produsen baja dan aluminium.
Ilustrasi/spindo.com
Ilustrasi/spindo.com

Bisnis.com, JAKARTA – Kanada bersumpah akan melakukan pembalasan jika Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump benar-benar mengenakan tarif yang tajam terhadap produsen baja dan aluminium.

Pada Kamis (1/3) waktu setempat, Trump mengumumkan rencana mengenakan tarif impor 25% untuk impor baja dan 10% terhadap impor aluminium, demi melindungi industri nasional.

Trump menyatakan pengenaan tarif tersebut akan diumumkan secara resmi pekan depan. Meski demikian, pejabat Gedung Putih kemudian mengatakan beberapa rincian masih perlu diluruskan sehubungan dengan hal ini.

Walaupun mendorong penguatan produsen yang berbasis di Amerika Serikat, namun rencana Trump tersebut bisa merugikan perusahaan-perusahaan yang mengimpor baja dan aluminium dari Kanada, termasuk Rio Tinto Group dan Stelco Holdings Inc., tanpa pengecualian.

Menteri Luar Negeri Kanada Chrystia Freeland mengatakan Kanada membeli lebih dari separuh baja Amerika, sehingga menghasilkan surplus sebesar US$2 miliar untuk AS.

Menurut Freeland, sama sekali tidak pantas jika AS mempertimbangkan Kanada sebagai ancaman bagi keamanan nasional.

“Kami akan selalu membela kepentingan pekerja Kanada dan bisnis Kanada. Jika pembatasan dikenakan pada produk baja dan aluminium Kanada, Kanada akan mengambil tindakan responsif untuk mempertahankan kepentingan perdagangan dan pekerjanya,” tegas Freeland dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip Bloomberg.

Para pelaku bisnis yang berkaitan dengan operasi baja dan aluminium di Kanada juga dengan cepat merespons rencana tersebut.

Perang Dagang

“Presiden [Trump] baru saja memulai perang dagang habis-habisan,” kata Jean Simard, CEO Aluminum Association of Canada.

Selain dampak langsung terhadap negara-negara yang berkaitan dengan industri baja dan aluminum, katanya, Eropa akan perlu melindungi dirinya dari banjir logam yang dialihkan karena AS bukan lagi pasar terbuka.

“Kami harus terus berharap agar Kanada dibebaskan dari rencana itu,” tambah Simard

Sementara itu, Rio Tinto yang berbasis di London dan mengimpor lebih dari 1,4 juta metrik ton aluminium ke AS setiap tahun dari Kanada, mengatakan akan terus melobi pemerintah AS untuk mendapatkan pembebasan.

Hal ini mengingat pasar Kanada-AS yang sangat terintegrasi untuk barang-barang otomotif dan barang-barang manufaktur lainnya.

“Aluminium dari Kanada telah lama menjadi masukan yang andal dan aman bagi produsen AS, termasuk sektor pertahanan,” ujar juru bicara Rio Tinto Matthew Klar melalui email.

“Kami akan terus berhubungan dengan para pejabat AS untuk menggarisbawahi manfaat rantai pasokan aluminium Amerika Utara terintegrasi, termasuk pekerjaan yang didukungnya di setiap sisi perbatasan,” lanjut Klar.

Saham Stelco Turun

Saham produsen baja asal Kanada, Stelco Holdings, pun dilaporkan turun 6,1% menyusul rencana pengenaan tarif oleh Presiden Trump.

AS berkontribusi sekitar 14% dari penjualan Stelco dalam enam bulan terakhir pada 2017, meskipun industri otomotif Amerika merupakan target pertumbuhan utama bagi CEO Alan Kestenbaum.

Kestenbaum mengungkapkan harapannya agar Kanada dibebaskan dari rencana pengenaan tarif impor. Joseph Galimberti, Presiden Canadian Steel Producers Association, juga menyatakan organisasinya telah mendorong keras untuk pembebasan tarif.

Sejauh ini, AS belum menunjukkan jika ada negara yang akan dikecualikan.

“Rencana pengenaan tarif ini akan merugikan produsen Kanada dalam dua cara, yakni dengan menaikkan biaya untuk pembeli di AS serta juga berpotensi mengalihkan produksi baja lainnya untuk membanjiri pasar Kanada” kata Galimberti.

“Jika Kanada tidak benar-benar dibebaskan, jika tarif 25% diberlakukan, pemerintah harus bersikap sama reaktifnya dalam hal apa yang mereka [AS] lakukan dari perspektif kebijakan dalam negeri,” tambah Galimberti.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper