Harga Gas Alam Berpotensi Bullish Bulan Depan

Gas alam diprediksi mengalami bullish ketika memasuki musim dingin yang akan berlangsung pada Desember hingga Februari mendatang.
Eva Rianti | 23 November 2017 05:34 WIB
Kilang Gas Alam Cair - Bisnis.com/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA – Gas alam diprediksi mengalami bullish ketika memasuki musim dingin yang akan berlangsung pada Desember hingga Februari mendatang.

Menurut jejak pendapat Bloomberg news, tujuh dari 13 analis dan pedangang yang disurvei berpendapat bahwa harga gas alam akan rebound menjelang cuaca dingin yang cenderung lebih dingin di bagian utara Amerika Serikat. Sementara lima responden melihat gas alam akan stabil, dan satu berpendapat bearish.

Terpantau, harga gas alam kontrak pengiriman Desember 2017 di bursa New York pada perdagangan Rabu (22/11) pukul 19.50 WIB mengalami pelemahan 0,02 poin atau 0,66% menjadi US$2,98 per million British Thermal Unit (MMBtu).

Harga gas alam turun tiga sesi perdagangan berturut-turut dengan penutupan pada sesi sebelumnya pada level US$3,02 MMBtu. Sepanjang tahun, harga melemah 19,28%.

“Harga gas alam berpotensi bullish. Saya mendasarkan itu pada sentimen La Nina pada musim dingin,” kata Brad Hunnewell, senior equity analyst di Rockefeller & Co.

La Nina adalah kondisi turunnya suhu permukaan air laut di Samudera Pasifik. Gejala tersebut cenderung membawa cuaca basah. Pada musim dingin, La Nina seringkali membawa banyak hujan ke daerah-daerah di Australia dan Indonesia dan suhu-suhu lebih dingin, salah satunya di AS.

Dari segi persediaan, menurut Energy Information Administration (EIA), stok gas alam mencapai 3,77 triliun kubik pada 10 November 2017, atau 2,6% di bawah rata-rata lima tahun. Pada April tahun depan diperkirakan persedian 10% di bawah rata-rata terlihat pada delapan tahun sebelumnya.

“Stok bisa jatuh, jauh di bawah itu jika musim dingin ini sedingin yang diharapkan oleh pasar pemanas perumahan karena lebih banyak gas yang dibutuhkan,” kata EIA.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
gas alam

Editor : Andhika Anggoro Wening

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top