Pemerintah Yakin e-Katalog Mampu Kendalikan Harga Obat

Pemerintah menyatakan sistem lelang pengadaan obat di dalam program Jaminan Kesehatan Nasional mampu mengendalikan harga obat dalam 3 tahun terakhir.
N. Nuriman Jayabuana | 23 November 2017 22:15 WIB
Menteri Kesehatan Nila F Moeloek menyampaikan pendapatnya dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (4/9). - ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

Bisnis.com, CIKARANG—Pemerintah menyatakan sistem lelang pengadaan obat di dalam program Jaminan Kesehatan Nasional mampu mengendalikan harga obat dalam 3 tahun terakhir.

Menteri Kesehatan Nila Moeloek menyatakan lelang pengadaan obat dalam e-katalogmendorong pabrikan untuk lebih banyak memproduksi obat generik.

”Industri bersaing menawarkan harga obat generik yang paling terjangkau. Dengan begitu, obat bisa menjadi lebih murah karena obat generik lebih banyak daripada obat paten,” ujarnya di Cikarang, Kamis (23/11/2017).

Pemerintah mendorong agar industri farmasi memproduksi lebih banyak obat generik ketimbang obat paten. Obat generik jauh lebih terjangkau dan memiliki spesifikasi yang tak kalah baik.

“Kalau volume obat generik semakin banyak. Dokter nanti enggak bisa main-main lagi kasih resep obat mahal supaya mendapat komisi dari pembuat obat,” ujarnya.

Nila menyatakan peredaran obat paten relatif lebih tinggi ketimbang generik tatkala program Jaminan Kesehatan Nasional belum bergulilr. Akibatnya, saat itu harga obat tak dapat terkendali.

“Sekarang dokter enggak bisa lagi KKN, dapat gratifikasi, atau banyak jalan jalan. Enggak bisa lagi harapkan fee dengan main-main kasih resep obat mahal. Dulu bisa saja dokter kasih yang bukan generik, sekarang enggak bisa,” ujarnya.

Menurutnya, permintaan terhadap obat generik di dalam program JKN terus meningkat sejak pertama kali bergulir pada 2014. Lelang program JKN tahun ini hampir mencapai 9 miliar pengadaan unit obat generik. Nilai pengadaan obat generik tersebut mencapai Rp18 triliun.

Menurutnya, prioritas pemerintah dalam program JKN merupakan keterjangkauan harga obat meskipun industri mulai mengeluhkan adanya penurunan margin.

“Dulu penggunaan obat generik tidak diutamakan karena banyak dokter yang main fee for service dengan ngasih resep obat paten yang mahal,” ujarnya.

Sebelumnya, Wakil Ketua Umum GP Farmasi Ferry Soetikno  menyatakan margin pabrikan farmasi lokal dan multinasional rerata turun 40% dalam 3 tahun terakhir. Penyebab anjloknya margin tersebut adalah terus menurunnya harga acuan lelang.

“Permintaan obat memang meningkat, tapi harganya terus turun. Penurunan harga itu juga menurunkan margin farmasi sebesar 40%,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
farmasi

Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top