Riset Jambeck Disangkal Pemerintah

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyangkal hasil penelitian Jambeck yang menyebutkan Indonesia sebagai negara penghasil sampah plastik terbesar kedua di dunia.
Regi Yanuar Widhia Dinnata
Regi Yanuar Widhia Dinnata - Bisnis.com 26 September 2017  |  18:35 WIB
Riset Jambeck Disangkal Pemerintah
Limbah plastik - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA—Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyangkal hasil penelitian Jambeck yang menyebutkan Indonesia sebagai negara penghasil sampah plastik terbesar kedua di dunia.

R. Sudirman, Direktur Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), menyampaikan jika data yang dihimpun oleh tim peneliti yang dipimpin oleh Jenna Jambeck tidak akurat untuk menggambarkan kondisi riil sampah plastik di Indonesia. Jambeck dinilai hanya memperhitungkan secara matematis antara data produksi plastik di dunia dan panjang garis pantai.

"Dia [Jambeck] tidak memperhitungkan apa yang telah dilakukan oleh pemerintah dan swasta guna menanggulangi sampah di Indonesia," kata Sudirman kepada Bisnis, Selasa, (26/9/2017).

Menurutnya, memang benar saat ini Tanah Air belum maksimal menanggulangi sampah secara 100%. Namun pemerintah telah melakukan berbagai upaya agar bisa mereduksi sampah plastik. Adapun KLHK menargetkan pengurangan sampah mencapai 1,9 juta ton hingga 2019.

Sudirman menyatakan jika Jambeck tidak memperhitungkan upaya yang dilakukan oleh Asosiasi Daur Ulang Sampah Indonesia (Adupi) dan Asosiasi Pengusaha Daur Ulang Plastik Indonesia (Apdupi) untuk mengatasi sampah plastik. KLHK telah membina sekitar 5.000 bank sampah dan terus mengedukasi masyarakat dan industri mengenai program 3R (reducereuse dan recycle).

Selain itu, untuk menanggulangi masalah sampah pemerintah menginisiasi pembangunan sekitar 700 pusat pengolahan sampah terpadu oleh Kementerian Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

"Tidak benar jika semua sampah plastik masuk ke laut karena kami sudah berupaya untuk daur ulang. Kendati demikian, kami sadar jika plastik banyak ditemukan di laut, akan tetapi jumlahnya tidak sesuai dengan data dari Jambeck," imbuhnya.

Sementara itu, KLHK dan beberapa kementerian terkait sedang berupaya untuk membuat kebijakan untuk menghambat pertumbuhan kantong plastik. "Tahap pertama adalah mengurangi kantong plastik dengan menerapkan skema berbayar, tarif menyesuaikan dengan keputusan bersama," katanya.

Dia menambahkan dengan mereduksi kantong plastik maka akan mengurangi secara signifikan jumlah sampah plastik. Seperti yang diketahui, kantong plastik mendominasi sebanyak 47% dari jumlah sampah plastik di Indonesia.

Kendati demikian, Sudirman tidak menampik jika data dari Jambeck digunakan sebagai salah satu acuan dari berbagai keputusan yang diambil pemerintah. "Jika Jambeck akan memperbaharui data penelitian pemerintah akan membantu memberikan data yang dibutuhkan," ujarnya.

Fajar Budiyono, Sekjen Asosiasi Industri Aromatik, Olefin, dan Plastik (Inaplas) mengatakan, jika metode penelitian Jambeck hanya cocok digunakan untuk negara maju, hal ini karena metode perhitungan yang dipakai mengambil data dari World Bank.

"Metodologi bank dunia ada 100 parameter, jika di negara maju parameter tersebut bisa terpenuhi semua. Namun di Indonesia hanya mempunyai 20 parameter saja," kata Fajar.

Berdasarkan data Jenna Jambeck dari University of Georgia, Indonesia berada di peringkat kedua dunia penghasil sampah plastik ke laut yang mencapai sebesar 187,2 juta ton setelah Cina yang mencapai 262,9 juta ton.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
plastik

Editor : Ratna Ariyanti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top