Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BKF: Rencana Pengenaan Bea Keluar Konsentrat 20% Belum Final

Rencana pengenaan bea keluar konsentrat hingga 20% masih belum final. Otoritas fiskal mengaku masih akan terus mengkaji rencana kebijakan tersebut dengan kementerian terkait.
Kurniawan A. Wicaksono
Kurniawan A. Wicaksono - Bisnis.com 25 Oktober 2016  |  19:34 WIB
Situs pertambangan mineral penghasil konsentrat - Ilustrasi
Situs pertambangan mineral penghasil konsentrat - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA – Rencana pengenaan bea keluar konsentrat hingga 20% masih belum final. Otoritas fiskal mengaku masih akan terus mengkaji rencana kebijakan tersebut dengan kementerian terkait.

Suahasil Nazara, Plt Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan tidak menampik adanya wacana kebijakan baru tersebut. Apalagi, ketentuan penerapan bea keluar (BK) konsentrat hingga 7,5% sudah habis pada Januari 2017.

“Apakah masih diberi relaksasi lagi dengan tarif tertentu atau harusnya kan tidak boleh diekspor mentah. Yang mana, masih dipilih-pilih dan diskusikan,” katanya, Selasa (25/10/2016).

Pada dasarnya, lanjut dia, pemerintah tetap berpegang pada arah penghiliran. Ekstrasi sumber daya alam yang dilakukan di Tanah Air seharusnya juga diiringi dengan proses pengolahan yang secara bertahap mendekati produk akhir. Dengan demikian, ada nilai tambah yang bisa didapat.

Namun demikian, jika langsung mengambil sikap melarang ekspor barang mentah, ada efek ke penerimaan negara. Apalagi, jika upaya penutupan dilakukan akan berimplikasi pada output dan tenaga kerja yang selama ini terserap.

“Intinya kita masih akan menimbang-nimbang dua sisi itu. Kalau terlalu loose ada kerugian karena ekspor barang mentah. Tapi kalau terlalu strict, enggak ada ekspornya juga,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bea keluar
Editor : Yusuf Waluyo Jati
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

BisnisRegional

To top