Perusahaan Asing akan Restorasi Gambut di Indonesia

Beberapa perusahaan asing berniat untuk merestorasi lahan gambut di Indonesia untuk menyimpan dan menjual karbon sebagai bahan baku industri dan penyelamatan lingkungan.
Gemal Abdel Nasser P.
Gemal Abdel Nasser P. - Bisnis.com 06 Oktober 2016  |  16:07 WIB
Perusahaan Asing akan Restorasi Gambut di Indonesia
Lahan gambut. - cwacwa

Bisnis.com, PEKANBARU-- Beberapa perusahaan asing berniat untuk merestorasi lahan gambut di Indonesia untuk menyimpan dan menjual karbon sebagai bahan baku industri dan penyelamatan lingkungan.

Deputi Penelitian dan Pengembangan Badan Restorasi Gambut Haris Gunawan mengatakan pihaknya telah menawarkan kerja sama kepada perusahaan asing dari Amerika Serikat dan Jepang.

"Perusahaan asing tertarik untuk ikut merestorasi gambut di Indonesia untuk mereduksi karbon dan menjaga iklim dunia," katanya saat berada di Pekanbaru, belum lama ini.

Tawaran investasi juga sudah disampaikan Wakil Presiden Jusuf Kalla bersama Ketua BRG Nazir Foead dalam Forum Ekonomi Dunia di Amerika Serikat. Untuk proses investasi itu, pemerintah terkait diminta menegaskan tata batasnya dan situasi sosial ekonomi. Terlebih lagi banyak daerah sengketa di Indonesia.

Menurutnya, skema ini tidak hanya semata-mata bisnis. Restorasi gambut juga ditawarkan untuk penyelamatan iklim dan lingkungan. Haris mengatakan tahun ini adalah kesempatan yang tepat untuk merestorasi gambut dan mencegah kebakaran hutan dan lahan.

Badan Restorasi Gambut meminta perusahaan memanfaatkan La Nina untuk meningkatkan upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan.

Deputi Bidang Penelitian dan Pengembangan Badan Restorasi Gambut Haris Gunawan mengatakan La Nina menguntungkan karena bisa membasahi lahan gambut. La Nina menyebabkan tingginya curah hujan.

"Tahun ini Riau dan daerah gambut lain diuntungkan dengan adanya La Nina, tidak seperti tahun lalu Indonesia diterpa badai El Nino yang menyebabkan musim kemarau panjang," katanya.

Tahun ini, BRG akan merestorasi 600.000 ha lahan gambut yang ada di Riau, Jambi, Papua, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan. Dalam lima tahun ke depan, BRG akan merestorasi 2,6 juta ha lahan gambut di provinsi itu.

Haris mengatakan pihaknya fokus kepada perbaikan tata air di lahan gambut. Upaya itu dilakukan dengan pembuatan sekat kanal yang akan menggunaka dana APBN.

Terpisah, Sugarin, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru mengatakan badai tersebut akan meningkatkan curah hujan yang tinggi. badai La Nina membuat titik panas dan titik api di Riau nihil.

"Artinya, La Nina mampu meredam kebakaran hutan dan lahan dan membuat Riau bebas asap selama 18 tahun," katanya.

Dia menjelaskan La Nina merupakan fenomena mendinginnya suhu muka laut di Samudera Pasifik area khatulistiwa dan mendorong bertambahnya suplai uap air bagi Indonesia sehingga curah hujan akan cenderung meningkat.

La Nina dalah gejala gangguan iklim yang diakibatkan suhu permukaan laut Samudera Pasifik dibandingkan dengan daerah sekitarnya. Akibat dari La Nina adalah hujan turun lebih banyak di Samudera Pasifik sebelah barat Australia dan Indonesia. Dengan demikian di daerah ini akan terjadi hujan lebat dan banjir di mana-mana.

La Nina terjadi karena angin passat bertiup dengan kencang dan terus menerus melewati Samudera Pasifik menuju Australia. Angin Passat ini akan mendorong lebih banyak air hangat di Samudera Pasifik menuju Australia Utara sehingga hujan hanyak turun di Samudera Pasifik Barat, Australia Utara dan Indonesia.

Namun, badai La Nina dikhawatirkan  dapat menyebabkan bencana banjir di beberapa daerah, terutama di Riau.  BMKG meminta pemerintah dan warga untuk mewaspadai banjir seperti yang terjadi awal tahun lalu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
gambut, restorasi ekosistem

Editor : Rustam Agus
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top