Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

DPR Minta Tarif Cukai Tembakau Tak Beratkan Perusahaan Kretek

Anggota DPR dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Abdul Kadir Karding mengimbau agar kenaikan cukai rokok hendaknya tak memberatkan perusahaan sigaret kretek.
Dewi Aminatuz Zuhriyah
Dewi Aminatuz Zuhriyah - Bisnis.com 03 Oktober 2016  |  18:08 WIB
Buruh melakukan pelintingan sigaret kretek tangan (SKT) di sebuah pabrik rokok, di Kudus, Jawa Tengah, Rabu (31/8/2016). - Antara/Yusuf Nugroho
Buruh melakukan pelintingan sigaret kretek tangan (SKT) di sebuah pabrik rokok, di Kudus, Jawa Tengah, Rabu (31/8/2016). - Antara/Yusuf Nugroho

Kabar24.com, JAKARTA - Anggota DPR dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Abdul Kadir Karding mengimbau agar kenaikan cukai rokok hendaknya tak memberatkan perusahaan sigaret kretek. Pasalnya, perusahaan sigaret kretek tergolong kecil dan menyerap banyak tenaga kerja.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati telah mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan No. 147 /PMK.010/2016.

Adapun kenaikan rata-rata tertimbang sebesar 10,54%. Tarif tertinggi yang dipatok untuk jenis tembakau sigaret putih mesin (SPM) adalah sebesar 13,46% sedangkan kenaikan tarif terendah untuk hasil tembakau sigaret kretek tangan (SKT) golongan IIIB adalah 0%.

Angka kenaikan tarif cukai rata-rata 10,54 persen, bagi Kadir cukup tinggi. Dia mengatakan pemerintah tak bisa menekan SKT untuk memberikan kontribusi besar terhadap pendapatan negara. Kenaikan tarif cukai akan berdampak merosotnya produktivitas sigaret kretek.

“Tarif cukai naik terus sementara produksi menurun. Sigaret kretek akan merosot kalah bersaing dengan SPM. Semakin rendah golongan perusahaan kretek, hendaknya semakin rendah tarif cukainya,” katanya dalam siaran pers, Senin, (3/10/2016).

Saat ini, lanjut Kardir, aktivitas di kota-kota besar sangat padat. Ruang maupun kesempatan untuk merokok sangat terbatas. Orang cenderung memilih rokok putih produksi asing ketimbang sigaret kretek yang merupakan produk lokal.

Rokok putih cenderung cepat habis jika diisap. Sementara itu, sigaret kretek dengan kandungan cengkih memakan waktu lebih lama.

Lebih lanjut, penurunan produksi kretek juga akan berpengaruh pada keterserapan hasil pertanian tembakau lokal. Sebab, hanya perusahaan sigaret kretek yang menggunakan hasil perkebunan tembakau lokal.

Berbeda dengan perusahaan SPM yang bisa memenuhi kebutuhan produksinya dengan tembakau impor. “Jika hasil perkebunan tembakau tak bisa diserap, mereka akan merugi,” katanya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tarif cukai hasil tembakau
Editor : Yusuf Waluyo Jati

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top