Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ini Sederet Manfaat Pengembangan Produk Indikasi Geografis

Pengakuan indikasi geografis pada suatu produk diyakini membawa banyak dampak positif, terutama dari segi aspek perekonomian dan sosial.
Ropesta Sitorus
Ropesta Sitorus - Bisnis.com 29 Agustus 2016  |  18:56 WIB
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna Laoly - Antara/Muhammad Adimaja
Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna Laoly - Antara/Muhammad Adimaja

Bisnis.com, JAKARTA - Pengakuan indikasi geografis pada suatu produk diyakini membawa banyak dampak positif, terutama dari segi aspek perekonomian dan sosial.

Menteri Hukum dan HAM Yasonna Hamonangan Laoly menjelaskan IG memliki potensi untuk menciptakan sebuah kekuatan ekonomi untuk daerah terpencil di Indonesia, berkontribusi pada penciptaan lapangan kerja serta pada Pendapatan Domestik Bruto, meningkatkan pendapatan petani dan produsen.

Karena itu harapan kami ke depan ada lebih banyak lagi produk IG yang terdaftar ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual,. Saat ini baru ada 46 produk IG, terdiri dari 40 produk Indonesia dan 6 produk dari luar negeri” katanya di Jakarta, Senin (29/8/2016).

Indikasi georgrafis (IG) yang mulai dikembangkan di Indonesia sejak 2001 dilakukan dengan pembentukan kerangka hukum untuk meningkatkan daya saing, menguntungkan produsen, mengembangkan masyarakat lokal, dan merangsang perekonomian lokal.

Yasonna mencontohkan bagaimana pengakuan menjadi produk indikasi geografis mampu mandongrak nilai jual suatu produk secara signifikan.

Misalnya produk IG kopi arabica Toraja dan kopi Arabica Gayo, harganya naik 10 kali lipat dari Rp25.000 per kg sebelum terdaftar sebagai produk IG menjadi rata-rata Rp205.000 per kg. Begitu juga Lada Putih Muntok, saat ini harganya Rp200.000 per kg, naik dari hanya Rp30.000 per kg.

Kenaikan ini tentunya akan menambah nilai ekspor dan devisa negara.”

Selain menguntungkan petani dan eksportir, pengakuan IG juga memiliki nilai tambah ekonomi lain berupa pengembangan pariwisata. Potensi ini sudah dikembangkan produsen Apel Batu Malang lewat agrowisata yang diminati wisman serta wisnus.

Daerah komunitas IG yang juga berpotensi menjadi destinasi wisata antara lain Kopi Gayo di Aceh, Madu Sumbawa di NTB, Kopi Simalungun di Sumut, Kopi Kintamani dan Garam Ameth dari Bali serta Kopi Preanger dari Pengalengan Jawa Barat.

"Banyak produk IG Indonesia yang dapat menembus pasar internasional dan diminati oleh konsumen dari negara lain. Contohnya IG Kopi Toraja dan Ubi Cilembu diminati oleh Jepang, juga Kopi Gayo, Garam Ameth dan Lada Putih Muntok diminati oleh negara UE," imbuhnya.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perdagangan haki
Editor : Rustam Agus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top