Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kemenko Maritim dan TNI AL Petakan Keamanan Selat Sunda

Kementerian Kordinator Kemaritiman bekerjasama dengan TNI Angkatan Laut guna melakukan survei dan pemetaan Selat Sunda untuk meningkatkan kemanan dan keselamatan kapal dengan skema pemisahan lalu lintas kapal.
Yudi Supriyanto
Yudi Supriyanto - Bisnis.com 04 Agustus 2016  |  00:16 WIB
Kemenko Maritim dan TNI AL Petakan Keamanan Selat Sunda
Kapal milik TNI AL - Ilustrasi
Bagikan

Bisnis.com, MERAK - Kementerian Kordinator Kemaritiman dan Sumber Daya bekerja sama dengan TNI Angkatan Laut guna melakukan survei dan pemetaan Selat Sunda untuk meningkatkan kemanan dan keselamatan kapal dengan skema pemisahan lalu lintas kapal.

Deputi 1 Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim Arif Havas Oegraseno mengatakan skema pemisahan lalu lintas kapal (traffic separation scheme/TSS) tersebut nantinya merupakan salah satu kebijakan yang diambil dari hasil survei tersebut.

Dia mengungkapkan skema tersebut juga akan diserahkan kepada Badan Maritim Internasional (IMO) setelah selesai dibuat. “Kita hanya punya TSS di Selat Malaka,” kata Arif, Rabu (3/8/2016).

Selat Sunda, imbuhnya, saat ini membutuhkan skema tersebut karena lalu lintas yang ada sudah cukup tinggi. Menurutnya, lalu lintas kapal di Selat Sunda mencapai sekitar 70.000 pergerakkan per tahunnya.

Jumlah tersebut, imbuhnya, sudah hampir sama dengan lalu lintas yang ada di Selat Malaka. Nantinya, lanjutnya, pergerakan kapal yang ke utara dan selatan akan diatur dengan adanya skema pemisahan tersebut.

Dia berharap, skema tersebut dapat membuat lalu lintas kapal lebih aman mengingat di Selat Sunda juga terdapat lalu lintas menyilang dari Pulau Jawa ke Sumatra.

Dia menginginkan kejadian kapal tanker yang menabrak karang di sekitar Selat Sunda tidak terulang dengan adanya sistem itu. “Jangan sampai ada kecelakaan, lalu terjadi tumpahan minyak, dan menimbulkan kerusakan,” katanya.

Kemudian, lanjutnya, Selat Sunda juga merupakan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI). Oleh karena itu, imbuhnya, pemerintah perlu melakukan pengamanan mengingat beberapa kapal dengan ukuran besar yang tidak dapat melewati Selat Malaka melalui Selat Sunda.

Terkait dengan harga survei tersebut, ucapnya, memiliki nilai sekitar Rp2 miliar. Adapun TNI AL akan melakukan survei Selat Sunda selama 50 hari mulai Kamis, 4 Agustus 2016.

Pada kesempatan yang sama, Kadis Hidro-Oceanografi TNI AL Laksma TNI Daryanto mengatakan, pihaknya akan melakukan survei di Selat Sunda dengan menggunakan kapal survei KRI Rigel – 933. Kapal tersebut, ungkapnya, memiliki teknologi terlengkap di Asia Tenggara.

Dalam survei nanti, pihaknya akan melakukan pengukuran terhadap temperatur, salinitas, unsur dasar laut, dan mencari semua data yang diperlukan. Adapun survei tersebut juga nantinya akan melibatkan beberapa tenaga dengan disiplin ilmu seperti geodesi, oceanografi, dan hidrografi.

Menanggapi rencana pemerintah membuat TSS, Direktur National Maritime Institute (Namarin) Siswanto Rusdi menilai, langkah pemeirntah tersebut cukup bagus meskipun termasuk terlambat karena telah terjadi beberapa kecelakaan di Selat Sunda.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kemenko maritim dan sumber daya
Editor : Yusuf Waluyo Jati
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top