Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PANEN RAYA: Disparitas Harga Tinggi, Bulog Diminta Beli Gabah Petani

Kementerian Pertanian meminta Badan Urusan Logistik (Bulog) untuk melakukan stabilitasasi harga guna mengantisipasi disparitas harga antara petani dan konsumen yang semakin tinggi.
Novita Sari Simamora
Novita Sari Simamora - Bisnis.com 29 Februari 2016  |  15:40 WIB
Menteri Pertanian Amran Sulaiman, mengemudikan mesin panen pada pada acara panen raya di Desa Mrenek, Maos, Cilacap, Jateng, Senin (29/2). Kementerian Pertanian melakukan panen raya serentak di tujuh provinsi meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan pada musin panen perdana tahun 2016.  - ANTARA
Menteri Pertanian Amran Sulaiman, mengemudikan mesin panen pada pada acara panen raya di Desa Mrenek, Maos, Cilacap, Jateng, Senin (29/2). Kementerian Pertanian melakukan panen raya serentak di tujuh provinsi meliputi Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan pada musin panen perdana tahun 2016. - ANTARA

Bisnis.com, LANGKAT - Kementerian Pertanian meminta Badan Urusan Logistik (Bulog) untuk melakukan stabilitasasi harga guna mengantisipasi disparitas harga antara petani dan konsumen yang semakin tinggi.

Kepala Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Kementerian Pertanian Ali Jamil mengungkapkan telah terjadi anomali harga yang berfluktuasi dan cenderung naik.

Menurutnya, harga gabah cenderung mengalami penurunan saat dibeli dari petani sebagai price taker dan sesampai di konsumen harganya cukup mahal.

"Pedagang sebagai price maker, profit margin pedagang terlalu besar, harga berfluktuasi dan cenderung naik dan disini peran Bulog diperlukan," ungkap saat membaca sambutan pembukaan panen raya mewakili Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Langkat, Senin (29/2/2016).

Dia mengharapkan Bulog agar membeli gabah dari petani langsung dengan harga pembelian pemerintah (HPP), untuk mengurangi dismaritas harga antara petani dan konsumen.

Selain itu, Ali meminta kepada Bulog untuk berperan dalam menjamin stok di pasaran dan menjaga harga agar tidak anjlok.

Adapun harga gabah kering panen (GKP) senilai Rp3.800--Rp4.000 per kg dari petani, sedangkan harga gabah kering giling (GKG) saat panen raya hanya mencapai Rp5.000 per kg, sedangkan pada bulan-bulan sebelumnya, harga GKG sempat menyentuh Rp5.700 per kg.

Di sisi lain, Ali menilai harga beras yang sampai di konsumen cenderung tinggi bukan disebabkan oleh aspek produksi, akan tetapi didorong oleh lima faktor yakni sistem distribusi yang belum efisien, logistik yang belum tertata, panjangnya rantai pasok tata niaga sekitar tujuh sampai sepuluh rantai, asimetri informasi pasar dan struktur serta perilaku pasar yang belum bersaing sempurna.()

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perum bulog disparitas harga panen raya
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top