Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Waskita Ingin Perusda Bali Tetap Ikut Studi Kelayakan Tol Bali

PT Waskita Toll Road menyatakan keberatan atas keputusan pemerintah Provinsi Bali yang menolak Perusda Bali untuk ikut terlibat dalam studi kelayakan proyek tol Bali, padahal kedua badan usaha telah sepakat membentuk perusahaan patungan tahun lalu.nn
Emanuel B. Caesario
Emanuel B. Caesario - Bisnis.com 22 Januari 2016  |  16:23 WIB
PT Waskita Toll Road menyatakan keberatan atas keputusan pemerintah Provinsi Bali yang menolak Perusda  Bali untuk ikut terlibat dalam studi kelayakan proyek tol Bali, padahal kedua badan usaha telah sepakat membentuk perusahaan patungan tahun lalu. - JIBI
PT Waskita Toll Road menyatakan keberatan atas keputusan pemerintah Provinsi Bali yang menolak Perusda Bali untuk ikut terlibat dalam studi kelayakan proyek tol Bali, padahal kedua badan usaha telah sepakat membentuk perusahaan patungan tahun lalu. - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA - PT Waskita Toll Road menyatakan keberatan atas keputusan pemerintah Provinsi Bali yang menolak Perusda  Bali untuk ikut terlibat dalam studi kelayakan proyek tol Bali, padahal kedua badan usaha telah sepakat membentuk perusahaan patungan tahun lalu.

Direktur Utama PT Waskita Toll Road Herwidiakto mengatakan dalam rapat kerja sama bisnis yang telah dilakukan kedua badan usaha itu,  disepakati tugas masing-masing antara Wasktia Toll Road dan Perusda Bali.

Keputusan Waskita menggandeng Perusda Bali pun pada dasarnya adalah untuk mendukung kegiatan studi kelayakan yang akan dilakukan. Menurutnya, Waskita menggandeng Perusda Bali untuk membantu menganalisis harga-harga tanah di Bali untuk penetapan rute yang paling layak secara investasi.

Keterlibatan partner lokal dalam perusahaan patungan tol Bali akan sangat membantu dalam upaya pendekatan kepada masyarakat nantinya. Perusda Bali pun diyakini lebih paham situasi ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat Bali sehingga akan sangat menolong bagi rencana pembangunan tol.

“Namanya perusahaan patungan, kita akan joint personil juga. Mereka sebagai putra daerah lebih tahu permasalahan tanah. Kita di teknis dan modalnya, kerjasamanya seperti itu. Setoran modal kan juga sudah jadi kesepakatan awal,” katanya kepada Bisnis, Jumat (22/1/2016).

Herwi mengatakan akan mencoba melakukan pendekatan lagi kepada pihak pemda Bali untuk meluruskan perbedaan pandangan terkait kerjasama yang dirintis kedua pihak. Meski begitu, dirinya maklum bila setoran modal dari Perusda ke dalam perusahaan patungan akan agak terlambat karena membutuhkan persetujuan DPRD.

Kedua badan usaha menurutnya telah menyepakati kerjasama untuk pembangunan tol Bali dengan komposisi penyertaan modal 75% dari Waskita Toll Road dan 25% dari Perusda Bali. Hingga saat ini, Perusda belum menyetorkan modal ke dalam perusahaan patungan yang bernama PT Waskita Bali Mandara tersebut.

Sebelumnya, Gubernur Bali Made Mangku Pastika menyatakan bahwa Perusda Bali tidak perlu terlibat dalam studi kelayakan tol Bali yang diprakarsai Waskita.

Menurutnya, belum ada jaminan proyek tersebut akan berjalan karena harga tanah di Bali yang sudah sangat tinggi. Padahal, untuk melakukan studi kelayakan, Perusda Bali harus menggelontorkan dana yang tidak sedikit.

“Kalau Perusda disuruh keluarkan dana tiba-tiba, ada aturannya dan tidak semudah itu keluarkan duit. Jadi, kalau Wasktia mau buat FS [feasibility study] sendiri, kenapa harus bersama-sama Perusda? Sekarang belum apa-apa setor duit, tetapi kalau tidak jadi karena ternyata hasil FS tidak feasible, emang murah?” jelasnya pekan lalu.

Pastika menyarankan agar Waskita melakukan kajian studi kelayakan sendiri tanpa melibatkan Perusda. Pastika menganggap studi kelayakan tersebut masih sebatas angan berupa perhitungan potensi investasi seperti pembebasan lahan, menghitung volume kendaraan dan lalu lintas.

Dirinya menyarankan agar Perusda baru terlibat ketika sudah ada kepastian terkait rencana pembangunan jalan tol itu.

Sementara itu, Herwi mengatakan, resiko terhadap ketidaklayakan proyek seharusnya sudah disadari sejak awal ketika Perusda memutuskan bergabung dengan Waskita. Keduanya justru sepakat untuk melakukan studi kelayakan bersama untuk mengetahui layak tidaknya proyek itu untuk dilanjutkan bersama-sama.

Menurutnya, bila kedua pihak memiliki semangat yang sama, studi kelayakan seharusnya bisa diselesaikan dalam waktu satu bulan.

“Yang paling penting  sebenarnya nilai tanahnya itu berapa, itu yang harus prediksi paling cepat. Kalau masalah teknik kan bisa kita analisis konsturksinya atau strukturnya, biayanya bisa kita hitung, LHR akhirnya  dan nilai investasi totalnya bisa dihitung,” katanya.

Jalan tol Bali yang diprakarsai Waskita ini diperkirakan akan memiliki panjang 156,7 km. Ruas tol tersebut meliputi Kuta—Canggu—Tanah Lot—Soka (28 km), Soka—Pekutatan (25 km), Pekutatan—Gilimanuk (54,4 km), dan Pekutatan—Lovina (46,7 km). Kebutuhan dana untuk seluruh ruas itu ditaksir Rp34,38 triliun.

Survei kelengkapan prastudi kelayakan, seperti analisis perkembangan wilayah, proyeksi lalu lintas, pemilihan trase dengan tinjauan aspek lingkungan, biaya dan teknis, perkiraan biaya konstruksi, analisis ekonomi dan analisis finansial sudah dilakukan untuk merealisasikan proyek tersebut.

Untuk ruas Kuta—Canggu—Tanah Lot—Soka, ada tiga alternatif yaitu trase pertama yang mengacu
pada rencana tata ruang wilayah, trase kedua yang melewati pantai, dan trase ketiga dengan memanfaatkan alur sungai.

Alternatif yang  melewati sungai mendapat bobot tertinggi dan secara ekonomis paling memungkinkan untuk digarap. Mitra lokal diharapkan dapat membantu untuk menganalisis rute mana yang paling menguntungkan secara investasi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tol bali
Editor : Martin Sihombing

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top