Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pertumbuhan Kontrak Proyek Gedung Diprediksi Masih Rendah

Kalangan kontraktor memproyeksikan pertumbuhan kontrak konstruksi di sektor bangunan gedung pada 2016 masih relatif rendah seiring keputusan sejumlah pengembang yang masih akan menahan laju pembangunan proyek properti baru.
Emanuel B. Caesario
Emanuel B. Caesario - Bisnis.com 06 Januari 2016  |  19:34 WIB
Pengerjaan proyek apartemen. - Ilustrasi
Pengerjaan proyek apartemen. - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA—Kalangan kontraktor memproyeksikan pertumbuhan kontrak konstruksi di sektor  bangunan gedung pada 2016 masih relatif rendah seiring keputusan sejumlah pengembang yang masih akan menahan laju pembangunan proyek properti baru.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Kontraktor Indonesia (AKI) Zali Yahya mengatakan, pertumbuhan di sektor properti selama 2015 relatif lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Dalam pembicaraan bersama sejumlah pelaku usaha di bidang properti, tuturnya, ada indikasi sejumlah pengembang masih akan menahan diri untuk mengembangkan proyek-proyek baru di 2016, khususnya sektor perkantoran dan apartemen.

Hal tersebut tentu turut berimbas bagi prospek usaha kalangan kontraktor, terutama yang mengandalkan proyek-proyek dari sektor bangunan gedung. Meski belum memiliki data yang akurat, tetapi menurutnya sejumlah pelaku usaha masih melihat peluang pertumbuhan kontrak bangunan gedung masih akan rendah sepanjang 2016.

“Pertumbuhan bukan tidak ada atau menurun, tetapi berkurang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Dengan sendirinya itu menyebabkan besaran pasarnya juga berkurang. Itu proyeksi 2016 berdasarkan pembicaraan dengan kalangan yang berkompeten,” katanya kepada Bisnis.com, Rabu (6/1/2015).

Menurutnya, rendahnya pertumbuhan juga dipacu oleh moratorium yang ditetapkan pemerintah Jokowi-JK bagi pembangunan gedung perkantoran baru dengan dana APBN atau APBD. Pembangunan gedung melalui dana pemerintah hanya difokuskan pada rumah susun, bukan perkantoran.

Meski demikian, menurutnya kebijakan tersebut secara umum cukup bijak untuk menekan penggunaan anggaran negara dan mendorong pemanfaatan gedung-gedung perkantoran yang sudah ada secara lebih efektif dan efisien.

Di sisi lain, Asosiasi Aspal dan Beton Indonesia (AABI) menilai prospek dunia konstruksi 2016 relatif cukup cerah bila dibandingkan dengan 2015. Meski belum dapat melaju kencang, pertumbuhan sektor kontruksi 2016 diyakini akan lebih tinggi.

Ketua Umum AABI Zulkarnain Arief mengatakan, penyerapan material beton untuk bangunan gedung akan kembali pulih di 2016 setelah cukup terpukul di 2015. Selain itu, investasi infrastruktur pemerintah yang akan mulai bergulir sejak Januari 2016 diyakini akan memberikan efek berantai bagi sektor lainnya untuk bertumbuh.

“Berbagai kebijakan yang sudah dikeluarkan pemerintah juga akan memberi prospek yang cerah, berbeda dengan tahun kemarin,” katanya saat dihubungi terpisah.

Selain itu, era Masyarakat Ekonomi Asean yang telah dimulai pun menurutnya akan cukup merangsang geliat pertumbuhan sektor properti Indonesia mulai tahun ini, terutama karena masuknya pemain asing untuk berinvestasi. Di tahun-tahun mendatang, pertumbuhan sektor properti diyakini akan kembali melaju kencang.

“Tahun ini ada peluang yang baik sektor properti untuk mulai tumbuh dan penyerapan beton dan material lainnya juga akan tumbuh,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

gedung
Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top