Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ginsi Desak Penghapusan Cost Recovery Peti Kemas

Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (Ginsi) mendesak penghapusan cost recovery peti kemas di Jakarta International Container Terminal (JICT) menyusul merosotnya kinerja pelayanan bongkar muat peti kemas ekspor impor di terminal JICT sejak pekan lalu hingga saat ini.
Akhmad Mabrori
Akhmad Mabrori - Bisnis.com 09 September 2015  |  21:24 WIB
Ilustrasi - Bisnis.com
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (Ginsi) mendesak penghapusan cost recovery peti kemas di Jakarta International Container Terminal (JICT) menyusul merosotnya kinerja pelayanan bongkar muat peti kemas ekspor impor di JICT sejak pekan lalu hingga saat ini.

Sekjen BPP Ginsi Achmad Ridwan Tento mengatakan cost recovery peti kemas di JICT dikenakan sejak setahun lalu sebagai jalan tengah belum disetujui penyesuaian biaya container handling charges (CHC) di terminal peti kemas pelabuhan Priok yang diusulkan oleh Pelindo II kepada Kemenhub.

"Saat itu pemilik barang tidak keberatan adanya cost recovery peti kemas tersebut dengan catatan standar pelayanan di JICT sesuai yang diamanatkan Kemenhub yakni rata-rata 25-26 boks/crane/hour (BCH). Tetapi sekarang cuma 18 BCH dan ini merugikan pemilik barang, karena itu kami minta cost recovery peti kemas dievaluasi untuk dihapuskan saja di JICT," ujarnya, Rabu (9/9/2015).

Dia mengatakan dampak merosotnya kinerja/layanan JICT saat ini yang rata-rata hanya 18 BCH bakal menurunkan performa terminal peti kemas tersibuk di Indonesia itu.

"Mungkin dampak jangka pendeknya belum terasa tetapi jika kondisi ini berlarut maka jangka panjangnya bisa mengakibatkan mother vessel memilih pindah ke terminal lain atau pelabuhan lain selain Priok," paparnya.

Ridwan mengatakan jika terjadi pengalihan mother vessel dari JICT ke terminal lain di Priok berpotensi menyebabkan kemacetan arus barang dan peti kemas sebab pelayanan hanya terkonsentrasi pada satu titik terminal saja yang belum tentu kapasitasnya bisa menampung volume peti kemas yang eksisting.

Ginsi juga menghawatirkan dampak slowdown layanan JICT akan menimbulkan biaya tambahan atau surcharges keterlambatan bongkar muat yang dikenakan oleh perusahaan pelayaran.

Sekretaris Dewan Pelabuhan Tanjung Priok Subandi justru mengatakan melambatnya layanan bongkar muat peti kemas JICT dikarenakan terminal tidak terlalu fokus pada layanan bongkar muat sebagaimana core bisnisnya tetapi sudah ke yang lain, seperti storage atau penimbunan dan juga pemeriksaan peti kemas karantina atau behandle.


Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

peti kemas ginsi cost recovery
Editor : Yusuf Waluyo Jati
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top