Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pelaku Industri Pengolahan Kakao Minta Bea Keluar Flat 15%

Bisnis.com, JAKARTA Pelaku industri pengolahan kakao meminta pemerintah merevisi bea keluar dari yang sebelumnya progresif 0%-15% menjadi flat 15%.
Shahnaz Yusuf
Shahnaz Yusuf - Bisnis.com 29 Juli 2015  |  19:22 WIB
Pelaku industri pengolahan kakao meminta pemerintah merevisi bea keluar dari yang sebelumnya progresif 0%-15% menjadi flat 15%. - JIBI
Pelaku industri pengolahan kakao meminta pemerintah merevisi bea keluar dari yang sebelumnya progresif 0%-15% menjadi flat 15%. - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA – Pelaku industri pengolahan kakao meminta pemerintah merevisi bea keluar dari yang sebelumnya progresif 0%-15% menjadi flat 15%.

Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Kakao Indonesia (AIKI) Sindra Wijaya mengatakan industri mengalami kekurangan bahan baku untuk diolah sebab ekspor biji kakao terus meningkat dengan adanya tarif progresif tersebut.

“Selama ini biji kakao diekspor padahal industri dalam negeri masih kekurangan. Kami berharap dengan dibuat flat 15% ekspor bisa terhambat sehingga bisa diserap industri,” ujarnya saat berkunjung ke Kementerian Perindustrian, Rabu (29/7/2015).

Dia mengatakan bahwa kebutuhan kakao untuk industri pada tahun lalu berkisar 400.000 ton dengan produksi biji kakao dari petani sendiri juga sekitar 400.000 ton. Dengan diekspornya biji kakao sebesar 63.000 ton pada tahun lalu, pelaku industri harus impor biji kakao sekitar 100.000 ton untuk memenuhi kebutuhan industri.

“Tahun ini diperkirakan kebutuhan meningkat jadi 450.000 ton. Kalau ekspor bisa ditahan,impor bisa dikurangi, kan bagus untuk neraca perdagangan,” katanya.

Sindra menjelaskan kapasitas terpasang industri pengolahan kakao bisa melebihi 700.000 ton per tahun. Bahkan tahun ini bisa sampai 800.000 ton per tahun dengan adanya penambahan pabrik baru PT Cargill Indonesia di Gresik.

“Ini yang baru terpakai 50%. Mesin terpasang sudah ada, tinggal meningkatkan produksi bahan bakunya,” tambahnya.

Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin Panggah Susanto mengatakan pihaknya telah mengirimkan surat ke Kementerian Keuangan agar bea keluar ditetapkan flat. Namun hingga saat ini belum ada perkembangan.

“Itu sudah ada beberapa bulan lalu diusulkan, tapi follow up-nya belum ada. Nanti akan kami angkat lagi,” katanya.

Panggah mengatakan saat ini produktivitas perkebunan kakao memang rendah, hanya berkisar 500 kg per hektare. Sementara secara teoritis, bisa mencapai 2 ton per hektare. “Katakanlah secara bertahap jadi 1 ton per hektare saja, sudah meningkat dua kali lipat. Kita sudah bisa jadi produsen nomor satu,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri kakao
Editor : Martin Sihombing
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top