RUPIAH BERGEJOLAK, Penjualan Semua Segmen Properti Terganggu

Pelemahan rupiah diprediksi kembali menghantam bisnis properti di tanah air pada tahun ini. Industri properti belum pulih benar dari beberapa pukulan selama setahun terakhir mulai dari pengetatan Loan to Value, tahun politik, naiknya bahan-bahan bakar minyak serta beberapa regulasi yang mencekik.
Deliana Pradhita Sari
Deliana Pradhita Sari - Bisnis.com 24 Maret 2015  |  09:36 WIB
RUPIAH BERGEJOLAK, Penjualan Semua Segmen Properti Terganggu
Ilustrasi - Bisnis.com

Bisnis.com, PONTIANAK— Pelemahan rupiah diprediksi kembali menghantam bisnis properti di tanah air pada tahun ini. Industri properti belum pulih benar dari beberapa pukulan selama setahun terakhir mulai dari pengetatan Loan to Value, tahun politik, naiknya bahan-bahan bakar minyak serta beberapa regulasi yang mencekik.

Pada tahun ini, masyarakat akan kembali dihadapkan dengan aksi menunggu dan melihat  yang merupakan perpanjangan dari tahun lalu.

Ketua Umum Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) Eddy Hussy mengatakan pelemahan rupiah yang terjadi mulai tahun lalu dan berlanjut hingga kuartal I tahun ini akan mempengaruhi penjualan properti di semua segmen. Pasalnya, masyarakat akan kembali menunggu dan melihat.

“Jika kurs bergejolak terus, orang akan wait and see lagi. Mereka akan melihat arahnya kemana. Masyarakat melihat dulu jika rupiah terus melemah apakah ada pengaruh terhadap sektor lainnya,” katanya kepada Bisnis saat ditemui di rangkaian acara HUT REI Ke-43 di Pontianak belum lama ini.

Bahkan, lanjut dia, sebagian masyarakat membeli dolar tetapi tidak diinvestasikan kembali ke properti.

Hal tersebut berdampak pada daya beli dari semua lini msayarakat, mulai dari yang berpenghasilan rendah, menengah hingga ke atas. Dengan demikian, penjualan semua sektor properti pun akan terpukul. Pasalnya, jika kalangan segmen atas menyetop membeli, maka proyek akan melambat. Dengan begitu, ada beberapa karyawan proyek yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Alhasil daya beli masyarakat berpenghasilan rendah menurun, pun dengan penjualan proyek pada segmen tersebut.

Selain itu, Eddy menambahkan, perlambatan penjualan juga tampak pada industri lain yang menyokong bisnis properti. Menurutnya, industri properti menghidupkan 174 industri terkait.

“Sekarang kita lihat, penjual keramik sudah berteriak bahwa penjualan mereka turun. Itu tentu akan sangat berpengaruh terhadap laju pertumbuhan bisnis properti,” tuturnya.

Kombinasi bergejolaknya nilai tukar rupiah ditambah dengan aturan perpajakan barang mewah pada awal tahun ini menjadi faktor utama melambatnya penjualan properti.

Meskipun demikian, pengembang pada tahun ini masih fokus mengerjakan proyek-proyeknya sesuai segmen usaha mereka. Baginya, tidak ada pengembang yang beralih ke segmen lain dengan adanya momen pelemahan rupiah.

“Masing-masing pengembang masih bermain di area bisnis yang sama. Pengembang yang menyasar huian mewah masih memasarkan proyek serupa. Tidak ada yang merubah orientasi segmen, tidak secepat itu,” katanya.

Eddy tetap berharap tidak ada gejolak naik turun pada kurs rupiah. “Kalau bisa, berapapun angkanya tidak apa-apa asal stabil.”

Kendati begitu, pihaknya tetap optimis daya beli masyrakat akan membaik dan penjualan akan tumbuh dengan adanya langkah yang ditempuh REI dengan pemerintah untuk perlahan membenahi regulasi di sektor properti.

“Kami optimis asalkan semua dapat diatasi."

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bisnis properti, dampak pelemahan rupiah

Editor : Gita Arwana Cakti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top