Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Beras Warga Miskin, Pemerintah Diminta Tidak Tergesa-Gesa Hapus Raskin

Pemerintah diminta melakukan penelitian mendalam dan tidak tergesa-gesa terkait dengan penghapusan beras bagi warga miskin (raskin), menyusul meluasnya penolakan dari masyarakat.
Redaksi
Redaksi - Bisnis.com 31 Januari 2015  |  20:25 WIB
Beras raskin - antara
Beras raskin - antara

Bisnis.com, JAKARTA - Pemerintah diminta melakukan penelitian mendalam dan tidak tergesa-gesa terkait dengan penghapusan beras bagi warga miskin (raskin), menyusul meluasnya penolakan dari masyarakat.

"Pemerintah seharusnya melakukan penelitian dan kajian mendalam. Termasuk terhadap masyarakat yang membutuhkan Raskin. Kesalahannya adalah, terlalu cepat melakukan perubahan,” kata Paulus Wirutomo, Guru Besar FISIP Universitas Indonesia.

Menurutnya, pemerintah seharusnya mendengarkan masyarakat, terutama mereka yang selama ini menerima raskin. "Pemerintah harus tahu apakah masyarakat sudah siap berubah atau tidak."

Jika tidak, tentu akan mempunyai dampak lain yang tidak diinginkan, misalnya berbagai penolakan seperti yang terjadi beberapa waktu belakangan.

“Jadi, pemerintah memang seharusnya benar-benar mendengarkan suara masyarakat,” ungkap Paulus.

Sebagaimana diketahui, sebelum ini pemerintah memutuskan menghentikan program raskin dan menggantikannya dengan e-money.

Namun, setelah mendapat berbagai reaksi, akhirnya pemerintah menganulir rencana tersebut dan tetap melanjutkan program raskin.

Nuraeni, seorang nenek berusia 64 tahun, bahkan menangis saat meluapkan perasaan terkait Raskin yang selama ini diterimanya. Warga Kampung Kuta Ateuh, Jurung Thaib, Kecamatan Sukakarya, Sabang, ini, mengaku sangat terbantu, karena dari sisi ekonomi, dia memang tergolong miskin.

“Kami benar-benar terbantu Raskin. Tolong jangan dihapus. Ya Allah, sedih sekali kalau sampai terjadi,” katanya.

Tinggal seorang diri di rumah sederhananya, Nuraeni mengandalkan pemberian anak-anaknya untuk menopang kebutuha n sehari-hari.

Namun karena anak-anaknya juga mempunyai kebutuhan rumah tangga, maka tidak setiap saat dia menerima pemberian. “Setiap bulan, kadang diberi Rp200-200 ribu. Tetapi kadang juga tidak,” katanya.

Menurut Nuraeni, Raskin memang menjadi tumpuan harapan. Kalau sudah ada beras, dia mengaku merasa tenang. Apapun lauknya tidak menjadi soal, meski hanya sekadar dengan sambal. “Tetapi kalau tidak ada beras, bagaimana nasib kami?” ujarnya

Asmuni, warga Kampung Anek Laut, Jurung Putro Bungsu, Kecamatan Sukakarya, Sabang, juga sama. Bekerja sebagai pengambil gula aren di hutan, kondisi ekononomi Asmuni memang terbilang jauh dari layak. Dalam satu bulan, dia hanya bisa mendapatkan uang sebesar Rp250 ribu-Rp300 ribu.

Itu pun aktivitasnya masih tergantung cuaca. Jika musim penghujan seperti sekarang, tentu jumlah air aren yang dikumpulkan semakin sedikit. Belum lagi gangguan monyet, yang memang senang meminum air aren.

Makanya, dia mengaku sedih dan kecewa, jika program tersebut dihentikan. “Semoga pemerintah ngon Bulog tetap meujok Raskin,” ujarnya. (Semoga, ke depan, pemerintah dan Bulog tetap memberikan Raskin kepada kami).

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

raskin
Editor : Bambang Supriyanto

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top