Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Industri Kakao Cemaskan Pasok Bahan Baku Lokal Turun

Asosiasi Pengusaha Industri Kakao dan Cokelat Indonesia mengkhawatirkan pasokan kakao dalam negeri terhadap industri pengolahan berkurang akibat produktivitas komoditas ini yang terus menurun.
Adi Ginanjar Maulana, Agne Yasa
Adi Ginanjar Maulana, Agne Yasa - Bisnis.com 06 Januari 2015  |  17:42 WIB

Bisnis.com, BANDUNG--Asosiasi Pengusaha Industri Kakao dan Cokelat Indonesia mengkhawatirkan pasokan kakao dalam negeri terhadap industri pengolahan berkurang akibat produktivitas komoditas ini yang terus menurun.

Ketua APIKCI Sony Satari mengaku dalam beberapa waktu ke depan pasokan kakao dalam negeri dikhawatirkan akan berkurang karena produktvitas yang kian menurun.

"Adanya rencana rehabilitasi perkebunan kakao diharapkan mampu mendongkrak pasokan ke industri pengolahan," katanya kepada Bisnis, Selasa (6/1).

Dia menjelaskan saat ini produktivitas kakao di Indonesia hanya sekitar 450.000-500.000 ton per tahun.

Adanya program rehabilitasi dari pemerintah itu bisa mendongkrak produktivitas kakao dalam negeri sekitar 700.000-800.000 ton per tahun.

"Anggaran Rp1,7 triliun untuk rehabilitasi perkebunan kakao dirasa kurang. Namun, setidaknya dengan rehabilitasi diharapkan mampu pasokan kakao bisa meningkat," ujarnya.

Dia mengatakan kendati Indonesia menduduki peringkat ketiga penghasil kakao terbesar di dunia setelah Pantai Gading dan Ghana.

Akan tetapi, dari segi kualitas, kakao Indonesia kurang bagus karena bijinya mayoritas tidak difermentasi. Sementara kebutuhan industri ingin biji kakao yang sudah difermentasi.

"Selama ini, kami masih impor kakao dari Ghana untuk mencampur kakao lokal untuk mendapatkan cita rasa atau standar produk kakao olahan," katanya.

Dia menilai adanya Permentan Nomor 67 Tahun 2014 hasil fermentasi kakao petani akan lebih baik, sehingga kebutuhan industri dalam negeri tidak perlu ditutupi dari kakao luar negeri.

"Saya pikir anggaran untuk rehabilitasi kakao pun harus digunakan untuk penyuluhan fermentasi terhadap petani. Hal ini agar kakao dalam negeri sepenuhnya diserap industri pengolahan," katanya.

Adapun daya saing industri pengolahan kakao saat pasar bebas Asean, pihaknya masih pesimistis karena masih didominasi kepemilikan asing.

Dia menjelaskan selama ini industri pengolahan kakao dalam negeri masih berkapasitas kecil karena tidak memiliki modal untuk bersaing dengan industri besar.

"Bisa dibayangkan jika industri asing itu menguasai pasar dalam negeri," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

produksi kakao industri kakao
Editor : Rustam Agus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top