Bisnis.com, JAKARTA - Para pengusaha akan cenderung melakukan penundaan dari sisi pasokan bahan baku impor karena dampak pelemahan rupiah serta proyeksi kenaikan suku bunga the Fed tahun depan.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Franky Sibarani mengatakan sekitar 70% bahan baku industri Indonesia masih impor sehingga sangat dipengaruhi volatilitas nilai tukar rupiah.
“Jadinya membeli bahan baku impor untuk pasokam 2-3 bulan saja karena kita tidak tahu kondisi triwulan I dan II tahun depan [terkait kebijakan the Fed],” ujarnya.
Pasokan bahan baku tersebut hanya digunakan untuk mencukupi permintaan konsumen yang selama ini trennya meningkat pada Oktober-Desember. Padahal, menurutnya para pengusaha biasa memasok bahan baku untuk stok sekitar 2-3 triwulan.
Franky mengatakan kondisi nilai tukar rupiah yang tembus Rp12.000 per dolar AS sebenarnya membuat pengusaha harus memutar otak untuk mengatasi penurunan daya beli masyarakat akibat ikut naiknya biaya produksi.
Untuk beberapa produk yang rentan jika ada kenaikan harga jual, pengusaha harus akan mengusahakan adanya penyesuaian kemasan. Namun, jika sudah tidak bisa dilakukan minimalisir biaya produksi lewat beberapa strategi, Franky mengatakan pengusaha tetap akan menaikan harga di tangan konsumen dan cenderung mengurangi jumlah produksi.
“Angka Rp12.000 [per dolar AS] itu berat. Fundamental yang sangat lemah di masa SBY,” kata dia.