Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Produksi Susu Nasional Diprediksi Stagnan

Produksi susu nasional tahun ini diperkirakan stagnan akibat sulitnya menggenjot produksi susu karena berkurangnya jumlah sapi perah.
Adi Ginanjar Maulana
Adi Ginanjar Maulana - Bisnis.com 14 Juli 2014  |  15:26 WIB
Memerah susu sapi. Produksi nasional diprdiksi stagnan.
Memerah susu sapi. Produksi nasional diprdiksi stagnan.

Bisnis.com, BANDUNG—Produksi susu nasional tahun ini diperkirakan stagnan akibat sulitnya menggenjot produksi susu karena berkurangnya jumlah sapi perah.

Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI) memperkirakan realisasi produksi susu pada 2014 berkisar 1,4 juta ton-1,7 juta ton. Kondisi ini sama dengan produksi susu nasional pada 2013.


Pada semester I/2014 produksi susu nasional baru mencapai kisaran antara 700.000-800.000 ton.

Ketua GKSI Dedi Setiadi mengatakan sulitnya menggenjot produksi susu karena masih dalam tahap recovery bibit akibat maraknya pemotongan sapi perah dalam kurun waktu dua tahun terakhir.

“Peternak tergiur karena tawaran tingginya harga daging sapi potong ketimbang harga susu menjadi pilihan peternak, mengakibatkan jumlah sapi perah lokal di menurun drastis,” katanya kepada Bisnis, Senin (14/7/2014).

Dia menyebutkan selama tiga tahun terakhir jumlah sapi perah terus menyusut. Pada tahun 2012 jumlah sapi perah mencapai 425.000 ekor menyusut menjadi 400.000 ekor di tahun 2013. Pada 2014 hanya mencapai 375.000 ekor.

Kondisi ini berdampak pada penurunan produksi susu tahun ini atau minimal produksi sama dengan tahun lalu.

Dedi menjelaskan jika kondisi ini tetap dibiarkan maka kontribusi susu nasional bisa anjlok dalam beberapa tahun ke depan, sehingga sulit mengejar pemenuhan kebutuhan susu di dalam negeri.

“Selama ini kontribusi susu nasional masih mencapai 20%-25%, jika kondisi ini tidak cepat dicarikan solusi maka kebutuhan sepenuhnya bisa diambil alih impor," ujarnya.

Menurutnya, saat ini peternak tidak bisa membeli bibit sapi perah impor karena harganya yang menembus Rp40 juta per ekor.

Oleh karena itu, pemerintah harus memberikan insentif keringanan berupa bunga rendah maupun harga jual yang murah agar akses peternak lebih mudah mendapatkan sapi perah.

Dia menjelaskan jika pemerintah memberikan insentif harganya bisa di kisaran Rp20 juta-25 juta per ekor.

“Kalau pembibitan di dalam negeri itu sangat lambat, sehingga tidak bisa mengejar peningkatan produksi susu. Jadi, langkah yang harus diambil sekarang yakni impor sapi,” katanya.

Berdasarkan catatan, pemerintah telah mencanangkan Cetak Biru Persusuan Indonesia 2013-2025 yang dikeluarkan Kementerian Koordinator Perekonomian pada Februari 2014.

Berdasarkan cetak biru tersebut, produksi susu tahun 2015 ditargetkan mencapai 1,53 juta ton dengan produktivitas 11,48 liter per hari, populasi ternak perah sebanyak 843.564, dan konsumsi susu masyarakat mencapai 15 liter per kapita per tahun.

Kemudian pada 2020 produksi susu ditargetkan mencapai 2,75 juta ton, produktivitas 13,11 liter per hari, populasi ternak perah sebanyak 1,3 juta ekor dengan konsumsi masyarakat mencapai 20 liter per kapita per tahun.

Sedangkan pada 2025 produksi susu ditargetkan mencapai 5,32 juta ton, produktivitas 19,67 liter per hari, populasi ternak perah sebanyak 1,7 juta ekor dengan konsumsi masyarakat mencapai 30 liter per kapita per tahun.

Kepala Dinas Peternakan Jawa Barat Doddy Firman Nugraha mengaku terus berupaya mengurangi ketergantungan impor susu sapi di antaranya melalui penaikkan pasokan susu peternak lokal.

Dia mengatakan produksi susu peternak lokal pada tahun ini ditargetkan naik di kisaran 4%-5% tiap tahunnya.

"Produktivitas susu sapi perah lokal saat ini hanya mencapai 10 liter per hari. Jika ditargetkan naik 4%-5% maka produkvitas susu bisa mencapai 12 liter per hari sesuai  aturan Standar Nasional Indonesia (SNI),” katanya.

Doddy juga mengatakan pihaknya berupaya mempertahankan populasi sapi perah betina peternak lokal dengan pola rearing.

"Anak sapi akan dibeli pemerintah dengan cara memberikan subsidi pakan konsentrat protein 16% dan total digestible nutrien 70% selama 2 tahun," tuturnya.(Dimas Waradhitya)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

susu
Editor : Ismail Fahmi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top