Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Negosiasi dengan Pertamina Alot, Kilang Polytama Stop Produksi

Negosiasi antara PT Polytama Propindo dan PT Pertamina (Persero) terkait pembahasan skema tolling fee agreement guna bisa memenuhi kebutuhan polipropilena dalam negeri berjalan alot.
Riendy Astria
Riendy Astria - Bisnis.com 07 Juli 2014  |  16:50 WIB

Bisnis.com, JAKARTA--Negosiasi antara PT Polytama Propindo dan PT Pertamina (Persero) terkait pembahasan skema tolling fee agreement guna bisa memenuhi kebutuhan polipropilena dalam negeri berjalan alot.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Aromatik, Olefin, dan Plastik (INAplas) Fajar A.D. Budiyono mengatakan belum beroperasinya kembali kilang milik Polytama berdampak pada pemenuhan bahan kimia polipropilena dalam negeri. Menurutnya, sejak kilang berhenti, pasokan untuk industri hilir terganggu dan impor juga kian meningkat.

Adapun berhentinya kilang Polytama disebabkan oleh berhentinya pasokan salah satu bahan baku untuk menghasilkan polipropilena, yakni propilena (C3) yang seharusnya dipasok oleh PT Pertamina (Persero). Dengan demikian, tak adanya propilena membuat perusahaan tidak bisa memproduksi polipropilena.

Saat ini, pihak Polytama sedang melakukan negosiasi dengan Pertamina untuk mencari jalan keluar agar masalah ini bisa diselesaikan.

”Mereka menawarkan konsep tolling fee, kami sepakat dengan poin-poin yang ada dalam tolling fee itu. Namun, ini agak sulit karena masih banyak hal dalam tolling fee itu yang belum mengakomodasi kami secara keseluruhan, jadi masih negosiasi, belum deal,” kata Fajar yang juga Manager Komersial Polytama Propindo di Jakarta, Senin (7/7/2014).

Sebelumnya, Pertamina menawarkan konsep tolling fee agreement  untuk pemecahan masalah. Vice President Communication Pertamina Ali Mundakir mengatakan Pertamina berencana ingin memasok propilena ke kilang Polytama dengan konsep tolling fee, dimana Pertamina akan membayar biaya pemrosesan kepada Polytama.

Sedangkan, produk akhir menjadi hak Pertamina untuk dipasarkan kepada end user.

Pertamina melihat skema tolling fee agreement  merupakan jalan yang terbaik mengingat hingga saat ini Polytama juga belum kunjung melunasi utang-utangnya kepada Pertamina.

Menjawab hal itu, Fajar mengatakan bahwa urusan utang antara Polytama dan Pertamina sudah selesai.

”Kalau masalah Pertamina sudah tidak ada, uang dari bank garansi kami juga sudah cari. Kalau dikatakan masih ada urusan dengan PPA baru benar. Sekarang ini masalahnya murni B to B yang belum selesai,” jelas dia.

Menurutnya, terganggunya pasokan dari Polytama juga memengaruhi kegiatan industri hilir. “Kalau biasanya hilir dapat  dari dalam negeri (Polytama), bisa kapan saja dikirim pasokan, tetapi sekarang kalau mengandalkan impor butuh waktu. Kalau dari Asean butuh sekitar 2 minggu, dari Timur Tengah bisa satu bulan,” kata  dia.

Sebelumnya, kilang milik Polytama memang pernah berhenti pada Agustus 2010. Kemudian, pada Februari 2013, kilang yang menghasilkan polipropilena tersebut sudah beroperasi kembali. Namun, kata Fajar, kilang tersebut berhenti kembali sekitar akhir Maret atau awal April lalu dan hingga kini belum bisa beroperasi.

Sebelum berhenti beroperasi, kilang tersebut menghasillkan kapasitas polipropilena sekitar 12.500 ton per bulan dari kapasitasnya yang mencapai 17.500 ton per bulan. Adapun untuk satu tahun, biasanya kilang menghasilkan produksi sekitar 180.000 ton hingga 240.000 ton per tahun.

Pada industri hilir, polipropilena biasa digunakan untuk berbagai aplikasi, seperti pengemasan, tekstil (contohnya tali, pakaian dalam termal, dan karpet), alat tulis, berbagai tipe wadah terpakaikan ulang serta bagian plastik, perlengkapan labolatorium, komponen otomotif, kertas kresek dan uang kertas polimer.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kilang petrokimia polytama
Editor : Rustam Agus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top