Pebisnis Optimis Indonesia Jadi Pusat Busana Dunia Pada 2020

Keinginan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) agar Indonesia menjadi pusat busana dunia di tahun 2020 mendatang, disambut optimis dan mendapat dukungan penuh pelaku bisnis bidang busana Indonesia.
Arif Gunawan
Arif Gunawan - Bisnis.com 08 Juni 2014  |  21:38 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—Keinginan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) agar Indonesia menjadi pusat busana dunia di tahun 2020 mendatang, disambut optimis dan mendapat dukungan penuh pelaku bisnis bidang busana Indonesia.

Pelaku bisnis busana retail dengan merek Pojok Busana, Tutum Rahanta mengaku telah mengetahui adanya keinginan pemerintah agar Indonesia menjadi salah satu pusat bisnis busana dunia. Menurutnya pelaku usaha telah memulai dengan beragam cara, di antaranya dengan menggelar beragam iven pameran dan promosi busana secara berkelanjutan.

“Saat ini kita punya banyak agenda pameran dan eksibisi busana, seperti Indonesia Fashion Week, Moslem Fashion Week dan lainnya. Ini sudah upaya nyata bentuk promosi produk busana Indonesia ke dunia,”katanya kepada Bisnis.com, Minggu (8/6/2014).

Untuk membuat busana Indonesia mendunia, pasar dalam negeri harus memberi branding yang kuat terhadap produk asli, misalnya batik. Kini busana batik telah berangsur-angsur menjadi busana yang bisa digunakan di setiap momen atau kegiatan, baik santai maupun untuk kegiatan resmi.

Dia juga mengatakan, batik telah digunakan oleh kepala daerah, menteri bahkan presiden dan dipakai dalam forum pertemuan internasional. Potensi batik sebagai busana asli Indonesia untuk mendunia sudah sangat besar.

Tinggal bagaimana pelaku bisnis dapat menularkan hal ini ke Negara lain, sehingga ada kesamaan persepsi antar semua pengguna batik agar bisa digunakan dalam kesempatan apapun.

Salah satu masalah utama yang perlu diperhatikan dalam produksi batik dalam negeri untuk kualitas ekspor adalah teknologi produksi yang  saat ini masih jauh tertinggal di banding Negara lain, semisal China.

“Sampai saat ini mesin produksi batik missal kita masih impor dari sana [China], bagaimana kita masu bersaing di pasar besar dan missal, pasti kalah dari segi harga jual.”

Namun untuk batik spesifik seperti batik tulis dengan kualitas premium, Indonesia masih lebih baik dan punya pasar khusus, sehingga masih menjadi pemimpin pasar di sektor ini.

Tutum yang juga menjadi Wakil Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia ini berharap pemerintah dapat mendukung perkembangan bisnis busana dengan dukungan teknologi tepat guna. Sehingga pelakuusaha bisa berfokus pada pengembangan teknik produksi yang lebih baik ke depan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
busana, pebisnis

Editor : Rustam Agus
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top