Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

HARI BURUH 1 MEI: Jangan Diarahkan ke Politik Praktis

Untuk pertama kalinya, hari buruh yang jatuh pada 1 Mei 2014 diperingati sebagai hari libur nasional. Kalangan pengusaha menilai peringatan ini merupakan momentum bagi para pekerja untuk instropeksi diri guna meningkatkan daya saing pekerja dan industri dalam negeri.
Riendy Astria
Riendy Astria - Bisnis.com 29 April 2014  |  17:06 WIB
Peringatan Hari BUruh. Jangan diarahkan ke politik praktis - JIBI
Peringatan Hari BUruh. Jangan diarahkan ke politik praktis - JIBI

Bisnis.com,  JAKARTA--Untuk pertama kalinya, hari buruh yang jatuh pada 1 Mei 2014 diperingati sebagai hari libur nasional. Kalangan pengusaha menilai peringatan ini merupakan momentum bagi para pekerja untuk instropeksi diri guna meningkatkan daya saing pekerja dan industri dalam negeri.

 Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi berharap peringatan hari buruh yang biasanya diisi dengan aksi unjuk rasa ini tidak mengganggu ketertiban umum. Justru, dia berharap banyak pekerja yang lebih memilih istirahat di rumah dan instropeksi diri guna mengejar ketertinggalan dengan negara lainnya.

Selain itu, dia berharap, peringatan ini tidak dijadikan ajang oleh para pekerja untuk meminta kenaikan upah meskipun ada kabar ada pihak yang menyuarakannya.

“Jangan sampai minta kenaikan upah sekarang, kalau itu waktunya nanti Oktober. Yang paling disuarakan oleh pekerja kali ini kemungkinan soal hal-hal normatif seperti masalah Jamsostek, outsourcing, dan sebagainya,” kata Sofjan ketika dihubungi Bisnis, Selasa (29/4/2014).

Yang tak kalah penting, kata Sofjan, lantaran seiring dengan akan dilakukannya pemilihan presiden (Pilpres) tahun ini, tidak sedikit yang akan memanfaatkan momentum hari buruh ke arah politik praktis. Mengenai kerugian akibat dijadikannya hari buruh sebagai hari libur nasional, pihaknya enggan mengomentari. Yang pasti, pihaknya menghargai hari libur untuk buruh ini.

“Yang penting, seharusnya jangan dibawa ke arah politik, tetapi saya pikir pasti ada hal yang mereka usung soal salah satu calon presiden yang mereka dukung,” tuturnya.

Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Franky Sibarani mengatakan sebelumnya, kalangan pengusaha sudah melakukan pertemuan dengan beberapa perwakilan serikat pekerja untuk membicarakan masalah peringatan hari buruh ini. Dia berpandangan, peringatan hari buruh tahun ini bisa berjalan dengan tertib lantaran yang akan melakukan aksi unjuk rasa hanya sebagian kecil dari seluruh pekerja yang ada di Indonesia.

“Pembahasan sudah dilakukan, difasilitasi oleh Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Soal upah, kalaupun nanti ada tuntutan, tentu tidak bisa dikasi, semua sudah ada aturannya,” ujar Franky.

Berdasarkan laporan perwakilan pekerja, kata Franky, pada 1 Mei mendatang, tidak semua pekerja akan turun ke jalan. Hal ini lantaran tidak sedikit perusahaan yang memiliki acara internal di perusahannya guna memeringati momentum ini. Pihaknya mendukung program yang dilakukan oleh beberapa perusahaan tersebut.

“Karena selain unjuk rasa, juga harus ada unjuk syukur. Para pekerja harus bersyukur, saat ini jumlah orang yang menganggur masih banyak, ada sekitar 9 juta-10 juta penduduk, jadi harus bersyukur.”

 Mengenai persiapan industri, kata Franky, tidak akan banyak yang berbeda dengan tahun sebelumnya meski kali ini dijadikan sebagai libur nasional. “Kami hanya berpesan tidak mengganggu ketertiban umum dan sebaiknya hari libur ini digunakan sebagai waktu untuk beristirahat.”


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hari buruh
Editor : Ismail Fahmi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top