Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Cabe Rawit Masih Tinggi, Ini Sebabnya

Masih tingginya harga cabe rawit merah disebabkan minimnya pasokan dari daerah sentra produksi.
Wike Dita Herlinda
Wike Dita Herlinda - Bisnis.com 06 April 2014  |  16:54 WIB
Harga Cabe Rawit Masih Tinggi, Ini Sebabnya
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA –  Masih tingginya harga cabe rawit merah disebabkan minimnya pasokan dari daerah sentra produksi.

 

Pasokan ke Pasar Induk Kramat Jati saat ini hanya mencapai sekitar 15 ton per hari dari total pasokan cabe seluruhnya sebesar 150-170 ton per hari. Biasanya pasokan cabe rawit merah tersebut rata-rata 35 ton per hari.

 

“Daerah pemasok ke Pasar Induk Kramat Jati saat ini hanya berasal Magelang, Rembang dan Wonosobo, sementara tidak ada pasokan cabe dari Jawa Timur (Blitar, Kediri, Jember) yang selama ini menjadi daerah pemasok utama Pasar Induk Kramat Jati)”, ujar Dirjen Perdagangan Dalam Negeri Srie Agustina.

 

Saat ini, opsi stabilisasi harga cabe rawit merah melalui penambahan pasokan impor merupakan alternatif yang sulit dilakukan mengingat terbatasnya sumber pasokan dari negara lain.

 

Namun, Srie menambahkan bahwa masyarakat jangan terlalu khawatir karena diperkirakan pada April–Juni 2014, akan ada potensi panen dari empat daerah sentra utama.

 

Keempat daerah sentra utama tersebut adalah Majalengka, Garut, dan Cirebon di Jawa Barat (26.754 ton); Magelang, Boyolali, dan Rembang di Jawa Tengah (sekitar 29.389 ton); Blitar, Kediri, Jember, dan Banyuwangi di Jawa Timur (sekitar 140.191 ton), dan Lombok Timur, NTB (sekitar 3.650 ton).

 

“Diharapkan akhir April 2014 harga cabe rawit merah mulai bergerak turun seiring penambahan pasokan ke pasar,” katanya.

 

Preferensi masyarakat yang lebih memilih cabe segar secara tidak langsung memberikan pengaruh terhadap tingginya tingkat permintaan masyarakat dan elastisitas komoditas cabe.

 

Padahal, kata Srie, sampai dengan saat ini belum ada faktor yang menguatkan bahwa cabe merupakan kebutuhan esensial dalam pemenuhan gizi. Kandungan gizi yang ada pada cabe dengan mudah dapat disubstitusi oleh sayuran atau buah-buahan lainnya.

 

Hal ini sangat berbeda dengan beras dimana pengurangan konsumsi beras berdampak langsung terhadap kualitas kesehatan masyarakat.

 

Oleh karena itu masyarakat diharapkan dapat memahami dan bisa beralih membeli cabe merah besar atau cabe keriting sebagai pengganti sementara selagi harga cabe rawit merah harganya masih tinggi.

"Masyarakat juga bisa melakukan hal-hal kecil seperti menanam cabe rawit merah di pekarangan rumah/pot-pot, paling tidak untuk memenuhi kebutuhan cabe rawit merah sendiri sehingga mengurangi tekanan permintaan terhadap komoditas dimaksud di tengah menurunnya produksi cabe rawit merah yang berimbas pada lonjakan harga,” ujar Srie.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

harga cabai cabai rawit merah
Editor : Rustam Agus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top