Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Mengapa Bank Indonesia Merangkul Bank of Korea? Ini Penjelasannya

Bank Indonesia telah menandatangani Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA) dengan Bank of Korea, senilai 10,7 triliun Korean Won atau Rp115 triliun (ekuivalen US$10 miliar), yang memungkinkan swap dengan mata uang lokal.
Novita Sari Simamora
Novita Sari Simamora - Bisnis.com 06 Maret 2014  |  23:16 WIB
Mengapa Bank Indonesia Merangkul Bank of Korea? Ini Penjelasannya
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Bank Indonesia telah menandatangani Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA) dengan Bank of Korea senilai 10,7 triliun Korean Won atau setara Rp115 triliun (ekuivalen US$10 miliar), yang memungkinkan swap dengan mata uang lokal.

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Internasional BI, Aida S Budiman mengatakan alasan BI bekerjasama dengan Bank of Korea karena dari sisi ekspor, Korea sebagai peringkat keenam tujuan ekpor dari Indonesia. Lima besar negara tujuan ekspor Indonesia adalah Jepang, China, Amerika Serikat, Singapura dan India.

“Sedangkan dari sisi impor, Korea merupakan negara kelima yang memasok barang ke Indonesia,” katanya Kamis (6/3/2014).

Selain itu, paparnya, perjanjian ini juga akan menjamin penyelesaian transaksi perdagangan dalam mata uang lokal antara kedua negara sekalipun dalam kondisi krisis guna mendukung stabilitas keuangan regional.

Agar BCSA dapat digunakan efektif maka BI akan mengeluarkan peraturan BCSA untuk pemakaian fasilitas ini.

Saat ini BI sedang mengevaluasi hasil perjanjian kerja sama bilateral currency swap (BCS) yang sempat dilakukan BI dengan Bank Sentral China.

"Kami sedang mempelajari mengapa pengusaha belum tertarik untuk menggunakan fasilitas BCS tersebut," katanya.

Perjanjian BCS dengan China ditandatangani pada 2009 dengan nilai 100 miliar reminbi ditukar dengan Rp175 triliun. Dengan rencana ini maka perjanjian BCS dengan China akan meningkat jadi 200 miliar renminbi atau setara dengan US$30 miliar.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bilateral swap arrangement
Editor : Yusran Yunus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top