Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

TKI Berkurang, Remitansi Tenaga Kerja Malah Surplus US$4,97 Miliar

Kendati jumlah tenaga kerja indonesia (TKI) terus menurun dalam 5 tahun terakhir, sumbangan devisa bagi neraca transaksi berjalan justru meningkat, meskipun tipis.
Ringkang Gumiwang
Ringkang Gumiwang - Bisnis.com 20 Februari 2014  |  20:30 WIB
TKI Berkurang, Remitansi Tenaga Kerja Malah Surplus US$4,97 Miliar
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA—Kendati jumlah tenaga kerja indonesia (TKI) terus menurun dalam 5 tahun terakhir, sumbangan devisa bagi neraca transaksi berjalan justru mencatatkan kenaikan, meskipun tipis.

Berdasarkan data NPI dari Bank Indonesia, penerimaan remitansi tenaga kerja pada 2013 mencapai US$7,41 miliar, naik 5,70% dari tahun sebelumnya US$7,01 miliar. Padahal, jumlah TKI 2013 tercatat 4 juta orang, turun 0,39% dari 4,02 juta orang.

Pembayaran remitansi tenaga kerja tercatat US$2,44 miliar, naik 1,66% dari US$2,40 miliar. Meskipun, jumlah tenaga kerja asing (TKA) stagnan di level 67.000 orang. Adapun, total surplus remitansi 2013 mencapai US$4,97 miliar, naik 7,89%.

Sekretaris Komite Ekonomi Nasional (KEN) Aviliani mengatakan sumbangan devisa dari remitansi tenaga kerja selama ini belum signifikan. Bahkan, berpotensi mencatatkan defisit seiring kebijakan pemerintah mengurangi jumlah TKI.

Selama ini gaji TKI terlampau rendah dibandingkan dengan TKA yang masuk ke dalam negeri. Dia menilai Indonesia belum menyiapkan TKI yang bersertifikasi. Menurutnya, lebih 90% dari TKI belum bersertifikasi.

“Kebutuhan dunia akan tenaga kerja itu sangat tinggi, terutama skill labor dan bersertifikasi. Contohnya, AS dan Eropa saat ini membutuhkan banyak perawat. Gajinya pun cukup besar bisa Rp10 juta/bulan,” ujarnya, Kamis (20/2/2014).

Berbeda dengan TKI, jumlah TKA di Indonesia justru cenderung meningkat. Meski demikian, lanjutnya, yang perlu diwaspadai adalah pertumbuhan gaji TKA. Data NPI menyebutkan remitansi TKA selama 5 tahun terakhir melonjak 40,22%.

Aviliani menilai pemerintah perlu membuat perencanaan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan luar negeri jika ingin menggarap potensi remitansi dalam menggenjot neraca transaksi berjalan.

Oleh karena itu, dia berharap pemerintah tidak lagi hanya fokus dalam penciptaan lapangan kerja semata.

Dia juga berpendapat kinerja remitansi tenaga kerja, termasuk dari salah satu indikator dari middle income trap. Oleh karena itu, peningkatan SDM dan keterampilan perlu segera didorong oleh pemerintah.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tenaga kerja neraca transaksi berjalan
Editor :
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top