Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Industri Kakao Berpotensi Kekurangan Pasokan

Produktivitas tanaman kakao petani hingga saat ini dinilai masih rendah, akibatnya pasokan industri berpotensi terhambat.
M. Taufiqur Rahman
M. Taufiqur Rahman - Bisnis.com 11 Februari 2014  |  20:17 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Produktivitas tanaman kakao petani hingga saat ini dinilai masih rendah, akibatnya pasokan industri berpotensi terhambat.

Ketua Umum Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) Zulhefi Sikumbang mengatakan produksi kakao tahun ini diperkirakan 425.000 ton atau turun 5% dibanding tahun lalu sebesar 450.000 ton. Sementara kapasitas produksinya diperkirakan mencapai 550.000 ton hingga 600.000 ton. "Tahun ini, industri akan kesulitan mendapatkan bahan baku karena rendahnya produksi," jelasnya, Selasa (11/2).

Rendahnya produktivitas tersebut, jelasnya dikarenakan petani kurang merawat tanamannya, misalnya saja tinggi ideal tanaman kakao maksimal 4 meter, sementara fakta di lapangan banyak tanaman yang tingginya mencapai 6 meter.

Kondisi ini, jelasnya, akan memaksa industri mengurangi kapasitas produksi pabriknya atau meningkatkan impor meskipun impor ini bukanlah solusi yang tepat karena akan meningkatkan beban produksi. "Solusinya adalah produktivitas petani harus ditingkatkan," ungkapnya.

Untuk memenuhi kebutuhan industri ini, maka produktivitas harus ditingkatkan minimal dua kali lipat dari profuktivitas saat ini atau sekitar 600 kg/ha/tahun. Karena dengan ini, produksi diperkirakan mencapai 900.000 ton per tahun.

"Luas lahan tanaman kakao saat ini sekitar 1,5 juta ha. Jika produktivitas dapat ditingkatkan menjadi 600 kg/ha/tahun, maka produksi tahun ini mencapai 900.000 ton," jelasnya.

Zulhefi menyayangkan pencapaian program Gerakan Nasional (Gernas) kakao yang dicanangkan pemerintah tahun lalu. Menurutnya program ini tidak mendukung pemberdayaan petani dalam jangka panjang.
"Gernas kakao tahun lalu itu hanya efektif untuk jangka pendek. Sementara secara jangka panjang tidak memberikan pengaruh apa-apa," ungkapnya.

Alasannya gernas tersebut hanya menitik beratkan pada rehabilitasi dan revitalisasi tanaman, sementara upaya pembinaan petani sangat minim. "Gernas kakao seharusnya untuk penyuluhan dan pembinaan petani. Ini akan berdampak jangka panjang," ungkapnya.

Konferensi Kakao

Sementara itu, tahun ini pihaknya berencana mengadakan konferensi kakao tingkat internasinal di Bali. Acara yang rencananya diselenggarakan 15 - 16 Mei 2014 ini akan membahas prospek industri tersebut dan juga tantangannya.

"Pada acara yang ke 6 ini, kami bekerjasama dengan WCF (World Cocoa Fondation) yaitu lembaga yang intens di sektor ini," jelasnya.

Saat ini Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki peran strategis di industri kakao dunia. "Indonesia sudah menjadi salah satu produsen olahan kakao setengah jadi terbesar di dunia, katanya.

Presiden WCF Bill Guyton mengatakan pembangunan perkebunan kakao yang berkelanjutan menjadi salah satu isu penting di industri kakao dunia. Indonesia merupakan salah satu negara produsen terbesar di dunia.

Menteri perdagangan, Menteri Pertanian dan Menteri Perindustrian direncanakan akan menghadiri acara tersebut.

Produksi biji kakao

Tahun              Kapasitas (ton)

2012               450.000

2013              450.000
2014              425.000*

*Perkiraan

Sumber: Askindo

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kakao harga kakao industri kakao
Editor : Martin Sihombing
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top