Penyerapan Pupuk Organik Masih Rendah

Bisnis.com, BANDUNG — Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Jawa Barat mengungkapkan penyerapan pupuk organik di kawasan ini masih belum optimal.
Maman Abdurahman
Maman Abdurahman - Bisnis.com 06 September 2013  |  20:23 WIB

Bisnis.com, BANDUNG — Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Jawa Barat mengungkapkan penyerapan pupuk organik di kawasan ini masih belum optimal.

Unief Primadi, Kabid Produksi Tanaman Pangan Diperta Jabar, mengatakan selain diberikan pupuk bersubsidi murah, pemerintah setiap tahun memberikan unit pengolahan pupuk organik (UPPO).

"Pupuk organik ini sangat bermanfaat, sayangnya dari luas tanam 2 juta hektare padi, hanya 20% yang memanfaatkan pupuk organik secara menyeluruh. Sisanya masih menggunakan kombinasi dan bahkan belum sama sekali," katanya, Jumat (6/9/2013).

Menurutnya, rendahnya penyerapan pupuk organik karena petani khawatir produksi padi mereka menjadi rendah dibandingkan dengan penggunaan pupuk kimia. Unief menjelaskan produksi awal padi dengan menggunakan pupuk organik akan turun sampai sepertiga kapasitas produksi.

"Misalnya produksi padi per ha yang seharusnya 6 ton per ha memang mengalami penurunan hingga 2 ton per ha. Akan tetapi, hal ini tidak akan bertahan lama dan produksi ke depannya akan kembali stabil seperti semula," ujarnya.

Dia mengungkapkan banyak manfaat dari penggunaan pupuk organik salah satunya lahan pertanian menjadi lebih gembur sehingga dapat menyerap unsur hama dan produknya tidak membahayakan. "Harga jual juga lebih mahal sehingga lebih menguntungkan bagi petani," ujarnya.

Sementara itu, dari Kabupaten Cirebon dilaporkan PT Pupuk Kujang memastikan stok pupuk di sekitar Cirebon aman untuk memenuhi kebutuhan petani menjelang musim tanam.

Kabag Humas PT Pupuk Kujang Mochammad Aby Radityo mengatakan petani khususnya di wilayah Cirebon tidak perlu khawatir kekurangan pupuk pada musim tanam yang dimulai September ini.

Dia menuturkan stok pupuk untuk Cirebon dan sekitarnya hingga akhir Agustus 2013 mencapai 11.874,6 ton, terdiri dari pupuk urea 10.933 ton, NPK Kujang 479 ton, pupuk organik 462,6 ton. “Jumlah tersebut diperkirakan akan mencukupi kebutuhan petani selama musim tanam September 2013,” katanya.

Aby mengungkapkan untuk harga eceran pupuk tertinggi dipatok Rp1.800 per kg untuk pupuk urea ukuran karung berisi 50 kg. “Harga tersebut untuk pembelian tunai di kios resmi atau agen pupuk.”

Pada perkembangan lain, Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan (Distanbunhut) Kabupaten Bandung menggenjot penerapan teknologi pupuk organik bagi tanaman hortikultura di kawasan ini.

Kabid Produksi Hortikultura Distanbunhut Kabupaten Bandung Endang Rahmat mengemukakan hingga saat in 70% petani tanaman hortikultura di wilayahnya sudah menggunakan pupuk organik meskipun masih menggunakan cara tradisional.

Menurutnya, nilai jual tanaman yang menggunakan pupuk organik lebih tinggi dibandingkan dengan yang memakai pupuk nonorganik, bahkan mampu menembus pasar luar negeri seperti Singapura untuk komoditas kubis, kentang, dan wortel

"Para petani menggunakan pupuk organik sebagai pupuk pada awal masa tanam. Hal ini dilakukan agar hasil produksi tanaman lebih bagus," katanya.

Dia menyebutkan di Kabupaten Bandung sudah memiliki pabrik pengolahan pupuk yang berkapasitas produksi 15 ton per hari dan hasil pupuk tersebut didistribusikan ke wilayah Karawang dan Surabaya.

Untuk tahun ini, pihaknya memberi bantuan pupuk organik dan alat pembuat kompos di Pangalengan.

Berdasarkan data yang dihimpun, pada tahun ini kebutuhan pupuk organik di Kabupaten Bandung mencapai 1.653,15 ton, sedangkan pupuk urea sebanyak 24.625,8 ton, ZA 3.300 ton, dan SP-36 3651 ton.

Sementara itu, tren teknologi pertanian berbasis organik menjadi daya tarik pelaku usaha menengah kecil (UKM) dalam menciptakan produk pertanian organik. Seperti alat penanggulangan hama hasil karya UKM, Duta Bintara yang mengembangkan alat Solar Trap.

Sidik Paridjo, Direktur Duta Bintara mengemukakan alat ini merupakan teknologi penekan hama dan serangga yang tidak memiliki efek racun seperti pestisida.

Menurutnya, alat tersebut bekerja dengan cara menarik, menjebak, dan memerangkap serangga melalui lampu sebagai penarik serangga di malam hari.  “Alat tersebut menghasilkan energi sendiri dengan tanpa menyebabkan terjadinya polusi dan ramah lingkungan,” katanya.

Dia menilai produk pertanian yang dikategorikan sebagai produk organik harus steril dari campuran kontaminasi bahan yang mengandung kimiawi.

Artinya, kata dia, tanaman harus diisolasi karena jika ada tanaman atau areal pesawahan tetangga menggunakan pestisida, urea, dan bahan kimia lainnya tetap air yang mengalir akan mempengaruhi sawah organik.

"Harus dicermati juga sejauhmana tanaman organik benar-benar organik, untuk sayuran atau perkebunan bisa 100% organik jika menggunakan green house. Akan tetapi untuk persawahan sepertinya tidak," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pertanian, pupuk, industri pupuk

Sumber : Adi Ginanjar/Ria Indryani/Wandrik

Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top