Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tanah Jawa Terdegradasi, Serapan Pupuk Organik Rendah

Bisnis.com, BANDUNG - Penyerapan pupuk organik bersubsidi oleh petani di Jawa Barat pada semester I/2013 masih rendah, hanya 27% atau 20.000 ton dari total 75.000 ton yang disiapkan tahun ini.
News Editor
News Editor - Bisnis.com 16 Juli 2013  |  16:36 WIB
Tanah Jawa Terdegradasi, Serapan Pupuk Organik Rendah
Bagikan

Bisnis.com, BANDUNG - Penyerapan pupuk organik bersubsidi oleh petani di Jawa Barat pada semester I/2013 masih rendah, hanya 27% atau 20.000 ton dari total 75.000 ton yang disiapkan tahun ini.

Bagian Sarana Produksi dan Permodalan Dinas Pertanian Tanaman Pangan (Diperta) Jabar Cece Mifthahuda mengatakan penyerapan pupuk yang rendah berdasarkan penelitian pengembangan pertanian dipicu kondisi tanah di Jawa dan Bali yang mengalami degradasi.

“Penurunan serapan sudah terjadi sejak tahun lalu yang hanya mencapai 52.000 ton dari yang disiapkan mencapai 90.000 ton,” katanya kepada Bisnis, Selasa (16/7/2013).

Dia menjelaskan produktivitas tanah di Jabar menurun, karena dipakai untuk pertanian secara berkelanjutan dan waktu istirahatnya kurang. Selain itu, ada perubahan perilaku petani yang memilih menggunakan pupuk NPK.

“Penggunaan dosis berlebihan menjadi salah satu penyebab tanah menjadi berkurang produktivitasnya, akibat agregat tanah menjadi lebih padat atau tidak subur.”

Untuk itu, Balai Litbangtan mengeluarkan Permentan Nomor 40 Tahun 2006 tentang Rekomendasi Pemupukan NPK spesifikasi lokasi.

Dia menggambarkan untuk setiap kecamatan mempunyai dosis pemupukan yang bervariasi yang disesuaikan dengan kondisi tanahnya masing-masing.

Di tempat terpisah, penggunaan pupuk organik di Kabupaten Majalengka juga rendah karena pertumbuhan tanamannya dianggap lamban.

Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Majalengka Wawan mengatakan pupuk organik baru digunakan sebagian kecil pada tanaman padi.

Pihaknya mengaku sudah menggulirkan program bantuan pupuk organik bagi gabungan kelompok tani, dan mendorong produksinya secara mandiri. "Ke depan akan dikembangkan, karena memang sosialisasi baru dilakukan beberapa tahun ini. Kalau sudah terbiasa memakai pupuk organik, hasil produksi justru bakal lebih banyak.”

Kepala Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Cirebon Ali Efendi mengungkapkan penggunaan pupuk organik, khususnya pada tanaman padi, diperkirakan akan menjadi tren dalam beberapa tahun mendatang.

"Produsen pupuk organik di Kabupaten Cirebon juga terus meningkatkan produksi, dari 15 unit industri pupuk organik dengan jumlah produksi setiap unitnya mencapai 30 ton per tahun," ujarnya.

Pada perkembangan lain, penggunaan pupuk organik pada tanaman hortikultura di Kabupaten Bandung diklaim berhasil.

Dinas Pertanian Kehutanan dan Perkebunan (Distanbunhut) Kabupaten Bandung mencatat produksi hortikultura yang menggunakan pupuk organik mencapai 175.000 ton per musim dari luas lahan 35.000 hektare.

Kepala Distanbunhut Kabupaten Bandung Tisna Umaran  mengatakan pengunaan pupuk organik pada tanaman hortikultura di mencapai 70% sehingga produksi bisa  maksimal.

Menurutnya, selain tanaman hortikultura, petani harus kreatif menggunakan pupuk organik dalam tanaman padi, terutama jenis SRI yang bisa menghasilkan satu benih padi mencapai 300 anakan.

Berdasarkan data pada tahun ini realisasi pupuk organik bersubsidi di Kabupaten Bandung mencapai 1.653 ton. (Maman Abdurahman/Adi Ginanjar/Wandrik Panca Adiguna)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perkebunan padi kimia budidaya pupuk organik npk
Editor : Fatkhul Maskur
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top