Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

MEUBEL JEPARA: Industri Kurang Perajin

BISNIS.COM, JEPARA- Pelaku usaha industri produk hasil kayu di Jepara mengaku mengalami krisis perajin.
Riendy Astria
Riendy Astria - Bisnis.com 04 Juni 2013  |  00:55 WIB
MEUBEL JEPARA: Industri Kurang Perajin
Bagikan

BISNIS.COM, JEPARA- Pelaku usaha industri produk hasil kayu di Jepara mengaku mengalami krisis perajin.

Manajer Produksi CV Mahogany Crafter Jepara Anita Indriani mengatakan selama dua bulan terakhir sempat menolak beberapa pembeli dari luar negeri lantaran kapasitas produksi belum mencukupi. Hal ini disebabkan oleh kurangnya perajin yang bekerja pada perusahaannya.

"Ini bukan hanya terjadi pada kami saja, rata-rata industri indoor furniture di sini menggunakan perajin, kerjasama dengan perajin. Tapi kami akui sekarang ini kami kekurangan perajin," kata Anita saat berbincang-bincang dengan wartawan, Senin malam, (3/6).

Menurutnya, dalam 2 bulan terakhir ini Jepara kembali ramai pembeli. Dia memperkirakan, banyaknya pembeli yang datang merupakan salah satu akibat adanya aturan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK). "Kami saja ada tambahan tiga pembeli dari luar negeri."

Dia berharap perajin asli Jepara kembali ke Jepara untuk bekerja meningkatkan industri produk kayu di Jepara.

Saat ini, kebanyakan perajin relokasi ke daerah di Pulau Jawa lantaran diiming-imingi upah yang lebih besar. Adapun upah perajin di Jepara sekitar Rp50.000/hari, sedangkan upah perajin di luar Pulau Jawa mencapai Rp100.000/hari.

"Tapi mereka lupa untuk memperhitungkan biaya hidup. Saya berharap, para pekerja kembali ketika mau Lebaran,"tambahnya.

Mahagony Crafter sendiri memiliki 40 perajin dengan empat perajin tetap. Adapun omzet penjualan tahun lalu mencapai Rp8 miliar. "Kami perkirakan sampai akhir tahun ini bisa sampai Rp10 miliar, salah satunya karena isu SVLK ini." Mahagony Crafter sudah mendapatkan sertifikasi sejak Maret 2013.

Pihaknya mengaku tidak mengetahui berapa jumlah perajin yang ada di Jepara. Yang pasti, lanjut Anita, Industri di Jepara mengeluhkan kekurangan tenaga perajin.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kayu svlk jepara meubel
Editor : Fatkhul Maskur
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top