Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

BATU BARA KUALITAS RENDAH: Larangan Impor China Tak Ganggu Produksi Indonesia

BISNIS.COM, JAKARTA--Larangan impor batu bara kualitas rendah (low rank coal) di China tidak akan berpengaruh pada produksi batu bara nasional, karena masih dapat diserap oleh pasar dalam negeri untuk keperluan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).
Lili Sunardi
Lili Sunardi - Bisnis.com 02 Juni 2013  |  05:43 WIB

BISNIS.COM, JAKARTA--Larangan impor batu bara kualitas rendah (low rank coal) di China tidak akan berpengaruh pada produksi batu bara nasional, karena masih dapat diserap oleh pasar dalam negeri untuk keperluan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

Dirjen Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Thamrin Sihite mengatakan rencana China melarang impor low rank coal akan mendongkrak pemanfaatan batu bara di dalam negeri. Alasannya, saat ini pemerintah tengah menggenjot pembangunan PLTU untuk menggantikan pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar minyak (BBM).

“Kami akan dorong itu [low rank coal] dimanfaatkan untuk pembangkit listrik di dalam negeri. saat ini kan banyak PLTU yang akan di bangun,” katanya di Jakarta, Sabtu (1/6/2013)

Thamrin mengatakan pemerintah sebenarnya sudah berencana melarang ekspor low rank coal pada 2014 mendatang. Hal itu dilakukan untuk memberikan nilai tambah di dalam negeri melalui kewajiban perusahaan meningkatkan kualitas batu baranya sebelum di ekspor.

Seperti diketahui, saat ini Pemerintah China sedang mempertimbangkan larangan impor batu bara dengan nilai kalori di bawah 4.500 kkal per kilogram NAR, dengan kandungan abu kurang dari 25% dan sulfur di bawah 1%. Wacana itu muncul karena low rank coal dianggap lebih banyak mencemari dibandingkan dengan batu bara dengan kualitas yang lebih baik.

Supriatna Suhala, Direktur Eksekutif Asosiasi Pengusaha Batu Bara Indonesia (APBI) mengatakan larangan impor low rank coal di China akan berpengaruh pada harga batu bara dunia. Akan tetapi, saat ini banyak negara yang menjadi alternatif untuk mengekspor batu bara.

“Untuk jangka panjang, tentu kami tidak dapat terus mengekspor batu bara ke China. Saat ini kan semua negara membutuhkan batu bara, seperti Sudan, Srilangka, hingga Turki,” ungkapnya.

Supriatna mengungkapkan pengusaha batu bara nasional juga harus lebih jeli dalam melihat wacana pelarangan impor di China itu. Pasalnya, saat ini banyak trader batu bara yang menekan pengusaha nasional untuk menjual batu bara dengan harga yang lebih murah. (mfm)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

listrik Harga BBM batu bara esdm thamrin sihite
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top